DRS Special Interview: Windyasari

Oleh : Risyad Tabattala

Salahkan Tugas Akhir saya yang tak kunjung selesai hingga membuat saya harus melewatkan penampilan salah satu solois wanita kesukaan saya, Windyasari, yang tampil di Hard Rock Cafe Jakarta dalam gelaran A Music Network (AMN) Gigs Vol. 8, Selasa (12/6) kemarin. Untungnya kekecewaan ini sedikit terobati karena beberapa waktu yang lalu saya masih sempat melakukan wawancara singkat via email dengan solois manis asal Bandung ini. Bagi kalian yang bernasib sama seperti saya dan gagal menyaksikan penampilan Windyasari tadi malam, berikut petikan wawancara singkat saya dengan vokalis sekaligus gitaris tangguh yang sempat membidani unit rock n’ roll asal kota Bandung, Jack and Four Men, ini.

Hallo Windy. Bisa cerita sedikit tentang proyek solo Anda?

Proyek solo saya sebenarnya sudah ada sekitar taun 2008. Saat itu masih dengan band saya, Jack and Four Men (JAFM). Jadi selain saya nulis lagu untuk JAFM, saya juga punya lagu-lagu lain. Salah satu rekan di band memang menyarankan saya punya proyek solo, ya dari pada saya bentuk band lain juga mungkin.

Saya masih sempat menyaksikan penampilan Jack and Four Men awal tahun lalu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?

Ok, kita memang sudah bubar. Rencana bubar ini memang ada, semenjak vokalisnya memutuskan resign. Kita pun berencana bubar saja baik-baik. Namun sebelum kita tuntasin semua, ada suatu hal yang memang akhirnya kita ngga bisa menyelesaikan EP kedua dan last gig. Bukan karena biaya, tapi karena suatu hal lain. Dan kenapa kita tidak resmi umumkan di facebook fanpage, web, media, dll karena sempat ada kontrak dengan album kompilasi. Tapi akhirnya kompilasi itu juga belum jelas dan sudah keluar dari waktu perjanjian. Maka kalau ada media nanya saya jawab jujur saja, memang bubar.

Apa kesulitan terbesar Anda saat pertamakali memulai proyek solo ini?

Teknis. Jika waktu bersama JAFM ada istilah briefing, maka saat solo saya sendirian. Semua drum (walau hanya kick drum), keyboard, gitar, bass, vocal saya yang aransemen. Kebayang bingung brieifing-nya kaya apa. Saya memang punya additional player. Cuma sampe saat ini mereka ngikutin apa yang udahsaya buat. Saya belum siap minta mereka luangin waktu untuk aransemen lagu saya, briefing, sementara saya belum bisa janjiin apa-apa. Karena ini bukan band.

Ada cerita menarik dari panggung-panggung pertama Anda sebagai musisi solo?

Seinget saya, yang menarik sekaligus berkesan waktu di acara Gnarly Thursday, Bumi Sangkuriang, Bandung. Waktu JAFM masih ada. Tapi saya ditawarin main solo di acara itu, yang memang konsep acaranya proyek solo semua dari Elang (Polyester Embassy), Ajie (The Milo), Zeke Khaseli dan Attir (Speaker 1st). Saya waktu itu diminta featuring dengan Shera Tarigan (Inspirational Joni) karena berdasarkan youtube ‘iseng-iseng’ yang saya dan Shera buat bawain lagu Tegan and Sara “Walking With A Ghost” akhirnya di acara itu kita bawain lagi.

Apakah Anda tipikal musisi yang butuh momen khusus untuk menulis lagu, atau inspirasi datang spontan begitu saja?

Itu ngga tentu. Kadang spontan, kadang sengaja bikin lagu dan cari momen khusus. Tapi biasanya yang spontan itu jauh lebih cepet prosesnya dan secara kualitas (bagi saya pribadi) seringkali lebih baik.

Ada cerita khusus dibalik “When I Said Dislike”? Anda terdengar tangguh di lagu itu, haha.

Tangguh dari segi apa nih? Dari segilirik atau cara saya nyanyi? Hehe.. Kalau itu ceritanya lebih ke, saya punya pendapat sendiri mengenai segala suatu hal khususnya lagu. Kalau bagi saya kurang ya kurang, tapi kalau bagus ya bagus. Dan dalam hal ini di lagu “When I Said Dislike” kasusnya adalah lagu idola saya sendiri Kings Of Leon. Pas muncul album kedua, saya kurang sreg, tapi pas album ketiga walau mereka agak melenceng ke grunge tapi bagi saya, “Nah ini baru bagus”. Ternyata pendapat saya sama dengan sebuah review albumnya di media nasional :p yah mungkin relatif sih, cuma ngga ada salahnya ketika kita bilang ngga suka sama idola sendiri.

Terkadang, suara Anda mengingatkan saya pada sosok Kimya Dawson dalam versi yang muram. Sebenarnya siapa yang memberi Anda pengaruh paling kuat dalam bernyanyi?

Untuk Kimya Dawson saya memang cuma dengerin The Moldy Peaches nya aja, ngga dengerin yang solo nya. Tapi influence saya kebanyakan musisi cowok. Cara saya nyanyi di “When I Said Dislike” dan Tone No.1” nya JAFM terinspirasidari Jamie Cullum. Saya juga terinspirasi Julian Casablancas, Liam Gallagher, The Tallest Man On Earth, Johnny Flynn. Dan ngga ada yang paling kuat,saya berusaha mengikuticara influence saya nyanyi dengan suara alami saya sendiri. Untuk penyanyi cewek saya suka Alison Mosshart (The Kills) dan Memphis Minnie.

Bisa beri kami daftar pendek musisi dan album yang sedang Anda dengar saat ini?

Mumford And Sons (Sigh No More), Noel Gallagher’s High Flying Birds, Johnny Flynn (Been Listening), album2nya Devendra Banhart, album2nya Sam Amidon.

Tentang film Once, apa yang membuat Anda begitu jatuh hati pada film itu? Apakah cerita film itu berakhir sesuai dengan dugaan Anda?

Nah ini dia! Ini ngingetin saya kalau ngga salah film Once ini sedikit banyak mempengaruhi saya untuk punya proyek solo. Saya aja lupa haha, kebetulan atau gimana ini? Gara-gara film ini saya sampe sempet pengen ‘ngamen’, saya kejar itu beberapa cafe supaya saya bisa main, kalau bias penontonnya dikit aja biar kaya di film. Dengan catatan saya bawain lagu-lagu influence saya kaya blues dan folk. Dan beneran saya lakuin, tapi ngga nyari duit sih hehe..Ending-nya ngga ketebak sih, kasian ya cowoknya.

Jika berkesempatan untuk membintangi film Once versi Anda sendiri, kira-kira siapa aktor yang cocok buat bermain sebagai lawan main Anda?

Hehe pertanyaan unik, semoga jadi doa :D. Sebenernya tunangan saya sendiri juga lumayan cocok haha, kan dia juga ngeband di Ansaphone, vokalis + gitar juga. Untuk khayalan lawan main film yang ada unsur musiknya kaya Once, saya ngga kepikiran yang lain lagi kalau lokal :D. Tapi kalau luar, personel The Avett Brothers sangat menggoda, tapi tentu nggak imbang dengan saya -__-. Dan kalo dari segi musikalitas, Kristian Matsson (The Tallest Man On Earth) cocok banget.

Lanjut. Sejauh mana ambisi Anda dalam memandang proyek solo ini? Bisakah kami berekspektasi bahwa Anda akan memproduksi album dalam waktu dekat?

Mudah-mudahan proyek solo saya, apalagi kalau sudah ngga ngeband ya, bisa lebih baik pencapaiannya dari pada JAFM. Maksud-nya, JAFM mungkin masa lalu, kita pasti harus lebih baik dari pada masa lalu. Mudah-mudahan tahun ini. Tapi saya ngga janji dalam format CD kalau misalkan rilis sendiri. Progresnya udah tinggal mastering koq.

Terimakasih untuk wawancara singkatnya, Windy. Ada pesan terakhir bagi siapapun yang membaca interview ini?

Terimakasih banyak bagi yang mewawancara dan yang membaca interview ini. Terutama yang belum denger lagu saya. Untuk sementara bisa cek di soundcloud.com/windyasari1

_________

Wawancara kami dengan beberapa musisi lain, juga bisa kalian simak di Amild.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Plugin from the creators ofBrindes Personalizados :: More at PlulzWordpress Plugins