Articles, Featured

Tentang KOIL, dan Meraba Jejak Mereka

4 Comments 31 July 2012

Julius Aryo Verdijantoro, akrab disapa Otong, bukanlah biduan beroktaf sembilan yang rajin hilir-mudik di progam musik pagi stasiun televisi nasional. Dia juga bukan sosok terkenal seantero negeri yang kehidupan pribadinya sanggup memenuhi slot berita di tayangan infotainment. Pun begitu, justru dari tangan juru vokal yang suaranya acap kali gagal kontrol dan jauh dari kata merdu inilah, salah satu sistem penulisan lirik paling brilian dalam satu dekade terakhir lahir dan meracuni alam sadar banyak orang. Dari tangan-nya, realitas dan ambuigitas hanya terpisahkan oleh garis tipis yang barangkali hanya dia sendiri dan Tuhan yang sanggup membedakannya. Tidak menganggap serius segala ucapan pria ini merupakan sebuah kesalahan besar. Menganggapnya serius, adalah sebuah kesalahan yang lebih besar lagi.

Kita tak pernah tahu kapan dia sedang serius, kapan sedang bercanda.

Dan Otong tidak datang sendiri. Bersama kawalan penguasa enam senar, arsitek dari seluruh lagu Koil yang sekaligus juga adiknya sendiri: Donnijantoro, mafioso tata-suara: bassis Adam Vladvamp, dan sang penabuh drum Leon Legoh, mereka tangguh berdiri di bawah bendera KOIL: salah satu kolektif musikal paling tangguh di negeri ini, dalam arti sesungguhnya.

Saya menyebut KOIL sebagai musisi bajingan. Di bawah asuhan mereka, telinga melankolis hingga yang paling ekstrem sekalipun, jadi rukun satu suara. Mereka mampu menunjukkan bahwa masih ada tempat bagi kata merdu, bahkan untuk ramuan industrial paling kejam sekalipun. Di satu waktu Otong hadir sembari menyumpah seluruh isi negara bagai anakan setan penjaga neraka. Di waktu lain, dia mampu menjelma menjadi sosok paling dramatis yang pernah manusia bisa bayangkan. Dulu saya sempat berpikir, dengan musik serupa itu, segmen pendengar seperti apa yang ingin mereka tuju? Nyatanya dugaan saya salah: mereka sanggup merangkul semuanya.

Saya termasuk generasi baru penggemar mereka. Saya tidak sempat merasakan efek langsung dari album pertama KOIL karena pada saat yang sama saya masih terlalu kecil untuk itu. Era Megaloblast juga nyaris serupa. Untungnya saya masih sempat merasakan sisa-sisa kehebohan album tersebut, termasuk salah satunya saat menyaksikan aksi mereka di corong MTV sekitar tahun 2003. Sebuah penampilan yang bisa dibilang kontroversial untuk ukuran TV nasional, di mana saat itu Otong naik ke atas panggung dan bernyanyi sembari menenteng rantai yang mengikat leher dua orang yang merangkak bagai anjing di sisi kiri dan kanan-nya.

Black Light Shines On sendiri, meski mungkin tidak seheboh Megaloblast, buat saya adalah puncak pencapaian artistik mereka sampai saat ini. Di album sebelumnya, mereka yang (sekali lagi, menurut saya) sibuk dengan diri sendiri, di Black Light Shines On mulai keluar kotak dan membagi visi mereka terhadap realita dunia. Jika saya harus mati hari ini dan Tuhan hanya membolehkan saya membawa sepuluh album lokal untuk menemani saya di akhirat sana, maka Black Light Shines On pastilah salah satu yang akan saya bawa.

Jika anda melihat dari perspektif industri, KOIL juga sama bajingannya. Saat musisi lain sibuk menyerukan kampanye anti pembajakan demi menyelamatkan pemasukan mereka dari hasil penjualan rilisan fisik, dengan santainya KOIL melepas Black Light Shines on secara gratis ke pasaran. Dan saat banyak golongan mulai memuji mereka atas keputusan berani melepas Black Light Shines on secara gratis, KOIL justru kembali dengan langkah tak terduga: merilis versi repackaged dari Black Light Shines On dalam bentuk fisik di bawah naungan Nagaswara (tentu saja yang ini tidak gratis). Juga saat banyak orang mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan arena non-mainstream, mereka justru menggelar kerja sama serta kolaborasi dengan Ahmad dhani serta Charly ST12!!! Untuk nama yang pertama mungkin saya tidak masalah, tapi untuk yang kedua saya masih geleng-geleng kepala sampai sekarang.

Di tengah segala anomali yang kerap mereka tebar, satu hal yang pasti, KOIL tetaplah berdiri di kaki sendiri tanpa perduli omongan orang. Dan dengan caranya sendiri, mereka tetap hidup….sampai sekarang.

Empat tahun lebih pasca Black Light Shines On dirilis, dan masih belum ada tanda-tanda kapan album terbaru mereka akan merangsek ke pasaran. Meski salah satu majalah franchise Amerika menyebut band ini sedang dalam tahap pembuatan album terbaru, sejujurnya saya tetap takut dan malas untuk berharap. Jika kita menengok ke belakang, maka kita akan tahu bahwa KOIL adalah tipikal musisi yang membutuhkan rentang waktu lama antara pengerjaan satu album ke pengerjaan album berikutnya. Dalam salah satu tulisannya, seorang jurnalis musik ibu kota bahkan berani berprediksi bahwa album mereka paling cepat baru akan keluar pada tahun 2013 nanti. Masih lama sekali.

Akhir kata, saya cuma bisa berdoa agar prediksi jurnalis itu salah dan album KOIL selanjutnya dapat hadir setahun lebih cepat. Semoga.

Teks: Risyad Tabattala
Foto: Agra Suseno

Your Comments

4 Comments so far

  1. Aditya says:

    He he, Gw juga baru suka mereka setelah Megaloblast. Sumpah liriknya dia edan.

    Nyanyikan Lagu perang selalu jadi lagu ramadhan Gw ha ha

  2. Anzio says:

    Kapan man hung lagi di Gordon saparua?

  3. Rikiracon says:

    Ampuun azzik.


Share your view

Post a comment

DRS Tumblr


  • Club 8s upcoming album “Above the City” to be released May 21st.

    Pre-order album on Amazon: www.smarturl.it/abovethecity
    Pre-order album on Itunes:smarturl.it/club8-above-itunes
    Pre-order from the Labrador shop: www.labrador.se/index148.html

    Contact: info@labrador.se


    05/14/13

  • How the responses of the metalheads on the biggest metal music festival Djarum Super Hammersonic 2013? Lets, visit this link http://youtu.be/6w3AOOM4vPw

    05/07/13

  • photo from Tumblr

    Harlan Boer di #acreate


    05/04/13

Facebook Fans

Recent Downloads

Downloads Page

© 2013 Deathrockstar.info. Powered by MemePix.

Daily Edition Theme by WooThemes - Premium WordPress Themes