Tag Archives: White Shoes and the Couples Company

Joyland2013

Review Event : Joyland Festival (Day 1)

Joyland Festival yang merupakan festival musik dari agenda tahunan G-production, mencoba berteman dengan alam yang bertempat di Taman Krida Loka, Senayan. Memberikan kembali warna yang beda, kali ini dengan konsep dan materi lebih luas. Menyuguhi musik berkualitas dari skena independen lokal, talkshow bersama musisi senior, hingga screening kumpulan film satu menit yang dikuratori oleh Anggun Priambodo. Semuanya dapat dinikmati secara gantian antara panggung A ke B beralaskan tanah dan rumput, beratapkan pohon-pohon rindang. Continue reading

2013_August_24_JAMS 10th_The Exp Brothers (21)

Review : The 10th JAMS “where music, art and law are fused in one perfect evening”

Pada tahun ini, JAMS (Justice, Art, Music on Stage) yang merupakan wadah dari badan kegiatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. JAMS juga turut mengangkat tema-tema tentang hukum tiap tahunnya, seperti yang sukses dilaksanakan pada 24 Agustus di Galeri Salihara. Acara ini juga menggelar Art Exhibition dari seniman-seniman muda Indonesia (mulai dari lukisan sampai sculpture), dan sebuah charity ditunjukan kepada Sanggar Anak Akar. Beberapa band turut berpartisipasi dalam JAMS 2013.

Seperti Heast, Kief, Vinfag, Water Of Life, Backwood Sun bermain di Mini Stage bersama pemandangan asri berlatarkan pohon-pohon yang rindang. Sehabis itu Grace Sahertian sudah siap membawakan tembang ternamanya di Main Stage. Dilanjut penampilan dari Polka Wars, sekumpulan pemuda yang secara musikalitas makin berkembang terlihat di setiap penampilannya. Dried Cassava juga merubah tatanan personinya. Tampil bersama penyanyi latar bersuara manis bernama Saras. Setelah itu kita dibawa ke era swing-jazz 60’an bersama Leonardo And His Impeccable Six. Unit shoegaze asal Bandung yaitu The Milo, tak mau kalah mengajak mengawang melalui lagu-lagu lawasnya yang terdapat di Photograph dan Let Me Begin.

The Experience Brothers menghadirkan sesuatu yang berbeda dari penampilan-penampilan sebelumnya, dimana saat lagu “Little Pony” dibawakan, berhasil kolaborasi bersama paduan suara Fakultas Hukum UI. White Shoes And The Couples Company sepulangnya dari Darwin, Australia, beraksi tak kenal lelah di atas stage pada malam itu. Sangat atraktif dengan penonton. Hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun dari Ricky Surya Virgana sang pembetot bass.

Lama tak terdengar semenjak peformance-nya setelah acara di Rolling Stone Cafe, Sore yang sekarang berformasikan Ade Firza Paloh (vocal, guitar), Awan Garnida (vocal, bass), Raza Dwipuranto (vocal, guitar) dan Bemby Gusti (drum) membawakan lagu-lagu yang sudah lekat di memori saya. Mulai dari “Musim Hujan” sampai “Pergi Tanpa Pesan” yang menyisipkan latar belakang dari kisah proses tiap lagunya tercipta dan dinarasikan Awan Garnida. Tapi yang paling populer di kalangan remaja sekarang adalah single mereka “Ssst….” yang pernah bertengger di posisi pertama i-Tunes Indonesia dan menjadi lagu penutup The 10th JAMS 2013.

Memasuki usianya yang kesepuluh, JAMS diharapkan dapat memberikan informasi dan awareness bagi masyarakat—khususnya anak muda—terkait tema yang diangkat kali ini tentang Hak Kekayaan Intelektual dalam penggunaan fasilitas File Sharing. Sudah sampai mana kita menyadari, bahwa meng-klik tombol ‘download’ secara ilegal adalah perbuatan mencuri hak cipta dari musisi ataupun artist itu sendiri. Fenomena tersebut terus menerus terjadi di era globalisasi seperti saat ini dan label rekaman—khususnya indie label— banyak yang gulung tikar. Sisi positifnya ada yang memanfaatkan File Sharing sebagai media publikasi untuk memperoleh popularitas secara instant. Para musisi mendapatkan keuntungan juga dari penampilannya di berbagai acara atas karya yang dibagikan cuma-cuma lewat jejaring sosial. Tapi menurut saya, berkarya berlandaskan untuk meraih popularitas, hanya bayangan semu semata. Sebut saja Udin Sedunia atau Briptu Norman yang sudah tidak tahu kabarnya seperti apa sekarang.

Photos by : Agra Suseno

white-shoes-and-the-couples-company

#dustingshelves White Shoes and The Couples Company – s/t

Album ini rilis di 2005 setelah sekitar tiga tahun tampil diberbagai tempat dan menyebar beberapa demo lagu. Album ini cukup ditunggu karena sejak awal mereka tampil sudah menuai pujian dan 2005 adalah waktu yang tepat karena era itu adalah masa dimana scene indie Jakarta mulai mendapat sambutan yang lebih luas dibandingkan sebelum-sebelumnya. Terutama karena mulai banyak pekerja media yang berasal dari scene indie di Jakarta yang dengan senang hati membantu menyebarkan musik-musik indah seperti ini kependengar yang lebih luas.

Lalu yang lebih menyenangkan adalah karena internet mulai mudah didapat, maka musik-musik dari Indonesia yang bagus-bagus juga mendapat perhatian dari media luar negeri yang mungkin awalnya tidak tahu ada negeri bernama Indonesia yang punya musik-musik indie keren. Namanya aja bisa diplesetin jadi Indienesia (kriuk…kriuk)

Dan album ini bisa dibilang representasi yang baik untuk era tersebut dan mewakili karakteristik Indonesia, karena saat itu ada beberapa band yang berkualitas baik dan berdaya jual cukup tinggi untuk pasar internasional namun rata-rata masih menggunakan sensibilitas barat. Sementara bapak-bapak dan ibu-ibu diluar negeri tentunya lebih ingin membawa sesuatu yang unik, sesuatu yang khas dari negeri di timur namun memiliki sensibilitas pop yang berkualitas; White Shoes and the Couples Company lah yang mereka pilih. Terbukti dengan dirilisnya album ini oleh Minty Fresh sebuah label indie yang memiliki kredibilitas tinggi, dan mereka diundang main diberbagai negara sebagai bintang tamu yang dibayar secara layak diberbagai festival.

Dan sampai saat ini album ini masih menjadi favorit dan tetap relevan setelah hampir sepuluh tahun dirilis.

Bagaimana menurut kamu?

POSTER

White Shoes & The Couples Company LIVE AT GOETHE INSTITUT

July 26, 2013
7:30 pmto10:30 pm
White Shoes & The Couples Company
LIVE AT GOETHE INSTITUT
Souvenirs from White Shoes & The Couples Company EUROPEAN TOUR 2013
Journal Launching – Music Concert – Video Screening
Jumat, 26 Juli 2013, 19.30.
 

Setelah sukses dengan tour di beberapa kota Eropa, WSATCC kembali menggelar konser musik sekaligus mereka akan menceritakan perjalanan tour di beberapa kota Eropa (Helsinki, Stockholm, Copenhagen, dan Berlin) melalui beragam medium ekspresi. Konser ini akan menggabungkan pertunjukan musik dengan pemutaran cuplikan-cuplikan video dan foto-foto  dari perjalanan WSATCC di Eropa, ditambah dengan dukungan dekor panggung dan tata lampu yang menarik. Selain itu, seperti kebiasaan yang kerap dilakukan oleh WSATCC selepas pulang tur, WSATCC membuat jurnal berupa majalah. Kali ini jurnal dikemas dalam bentuk majalah dengan 40 halaman yang dicetak sebanyak 500 eksemplar dan akan dijual untuk pertama kalinya di tempat acara.

Pada pertunjukkan ini WSATCC akan bermain sepanjang 90 menit dalam dua set yang berbeda dan diselingi pemutaran video yang memuat gambar-gambar dari tur WSATCC di Eropa.