“Nama saya Benny..dulu saya main musik juga seperti mereka..terimakasih sudah mengundang saya..semoga setelah ini tidak cuma orang Kanada yang kenal saya, Jakarta juga..”
Kira-kira seperti itulah kalimat yang muncul dari mulut Benny Soebardja di sela-sela penampilannya bersama The S.I.G.I.T. dalam gelaran Djakarta Artmosphere (Djaksphere) 2012, Sabtu, (10/11) lalu. Matanya sedikit berkaca-kaca, seolah sedang terharu menapaktilas jejak kejayaannya di masa lalu. Sejenak melupakan penyakit yang sedang diidapnya, penampilan Benny Soebardja malam itu seolah memiliki misi khusus untuk membuktikan bahwa rock adalah sebuah kata yang telah pekat mendarah-daging di jiwa anak muda di Indonesia, sejak dahulu kala….
Di luar pasangan The S.I.G.I.T. dan Benny Soebardja yang tampil sebagai pembuka, Djakarta Artmosphere (Djaksphere) 2012 turut menampilkan tiga pasangan penampil lintas generasi yang lain. Zeke Khaseli yang tampil sebagai performer kedua, datang dengan menggandeng Ermi Kullit sebagai mitra sepanggung. Buat saya, Zeke Khaseli adalah tipikal musisi yang penampilannya selalu dua kali lebih menarik untuk disaksikan ketimbang jika hanya disimak lewat versi rekamannya saja. Dan malam itu, lengkap dengan bantuan gerombolan penari bertopeng binatang (plus, ehm, Ladya Cherryl pada bas yang tampil begitu menggoda), sekali lagi Zeke Khaseli membenarkan dugaan saya tersebut. Puncak penampilan mereka? Mungkin saat Zeke Khaseli dengan sabar mengiringi Ermi Kullit yang dengan syahdu membawakan “Kasih” sembari mengajari penonton bagaimana caranya sebuah hubungan asmara dibangun dengan begitu mesra. Mmmuach.
Malam masih panjang dan Djaksphere 2012 belum usai.
Giliran The Upstairs naik ke pentas bersama seorang pria pirang yang mengenakan kostum serupa tracksuit jogging warna keperakan. Siapa dia? Lelaki yang sekilas terlihat bagai astronot yang sedang tersesat di gedung pusat kebugaran itu bernama Andy Ayunir. Nomor-nomor legendaris The Upstairs sukses dibawakan malam itu, mulai dari “Matraman”, “Disko Darurat”, “Antah Berantah”, hingga nomor-nomor baru macam “Sekelebat menghilang”, “Selamat Datang Di Tubuh Kami”, plus sebuah lagu (yang sepertinya) milik Andy Ayunir yang saya lupa entah apa judulnya. Bertanya soal kejutan? Dengan cerdas mereka menyisipkan sosok Ikang Fauzi merangsek ke atas panggung lalu membawakan nomor “Catatan Si Boy” yang enerjik itu.
Koor panjang (plus gelak tawa oleh aksi ‘asik’ Ikang Fauzi) seketika membanjir di venue Balai Sarbini. Good show!
Namun buat saya, momen puncak malam itu justru terjadi saat Shaggydog naik pentas. Tepat pagi sebelumnya, kawan saya Deva menyebut Shaggydogg sebagai salah satu band dengan penampilan matang di republik ini. Dan malam itu, momen perdana di mana saya akhirnya bisa menikmati aksi live Shaggydogg secara utuh, saya harus akui bahwa pendapat kawan saya memang benar adanya. Ibarat mobil, Shaggydogg adalah Cadillac Escalade yang melahap aspal jalanan dengan santai, bersahabat, namun tetap mantap sekaligus menebar kilau yang menyilapkan mata. Semua menjadi semakin berkesan saat Bob Tutupoli ikut nimbrung di panggung dan membawakan beberapa lagu termasuk “Widuri” yang malam itu dibawakan dengan sangat seksi. Ibarat seorang wanita, lagu “Widuri” yang dibawakan malam itu bak seorang gadis santun melayu yang mendadak liar dan ‘khilaf’ di lantai dansa.
Secara keseluruhan, Djaksphere 2012 hadir dengan manajemen waktu yang jauh lebih rapi ketimbang edisi tahun sebelumnya. Dengan line-up pengisi acara yang sebegini bergizi, satu-satunya pertanyaan yang muncul belakangan adalah apa yang terjadi hingga acara ini terhitung sepi dari segi jumlah penonton?
Lemah promosi, mungkin?
Teks : Risyad Tabattala
Foto : Agung Hartamurti // irockumentary.com
















