Tag Archives: The SIGIT

robialbum

Review Redaksi Akhir Tahun 2013

Seperti sudah menjadi tradisi, beberapa portal berita musik selalu melayangkan urutan-urutan “Best Album” tiap tahunnya. Untuk tahun 2013 sendiri, peringkat pertama didominasi oleh Kanye West dengan albumnya yang bertajuk Yeezus. Redaksi kami juga memiliki tradisi serupa. Namun, bukan berdasarkan survey ataupun riset. Kami membongkar kembali kumpulan CD di raknya, membuka lagi email-email bagi kalian yang sudah mengirimkan album penuh ataupun mini-album, lalu mendengarkan ulang. Maklum belakangan ini kami (Deathrockstar) jarang terlihat produktif mengulas album-album terkini. Tapi, bukan berarti juga ketinggalan berita akan rilisan-rilisan berpotensi hebat. Berikut kesepuluh album yang sengaja kami saring dalam ulasan singkat kali ini.

Continue reading

Concert Review: Detournement by The SIGIT

Kecuali Indonesia yang masih saja dipimpin oleh presiden lemah syahwat bak pria paruh baya yang kehilangan testikelnya, banyak perubahan telah terjadi dalam empat tahun belakangan ini. Dalam konteks The SIGIT, perubahan itu terjadi lewat konsep musik yang terasa lebih dewasa meski tidak meninggalkan garis merah lama mereka. Mungkin terasa penuh perhitungan dan tidak se-“hajar bleh” beberapa tahun yang lalu, tapi tetap saja membangkitkan daya kejut pada banyak sudut yang tidak terduga.

Empat tahun pasca konser mematikan mereka di Eldorado, Bandung, 2009 lalu, The SIGIT kembali datang menjajah venue yang sama, Sabtu (26/10) kemarin. Berbekal sederet amunisi baru dari album Detourn yang rilis belum lama ini, lewat konser tunggal bertajuk “DETOURNEMENT” ini, mereka menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah band terus berkembang dan tidak membusuk pada titik yang sama.

Naik pentas lewat pukul sembilan malam, The SIGIT langsung menghajar panggung lewat “Detourne”. Agak canggung melihat Rekti berdiri di tengah panggung tanpa ada gitar di genggamannya. Bagusnya, gimmick berupa “Hands of Fatima” yang digambar di telapak tangannya, kostum penyihir ala Ghost B.C. atau juga, Sunn O))), plus gesture tubuh Rekti yang bernyanyi bak pendeta sesat yang tengah merapal kutukan, sukses melapangkan jalan The SIGIT merebut momentum yang tepat di awal konser.

Tidak susah bagi mereka untuk melanjutkan momen yang sudah terbangun sejak awal. Lagu-lagu pemompa jantung macam “Horse”, “Let It Go”, hingga “No Hook” sukses memancing penonton hingga terciptalah sejumlah crowdsurf di baris terdepan.

“Conundrum”, dimainkan tidak jauh setelahnya. Ini kali pertama saya menyaksikan lagu ini dimainkan secara live, dan sensasinya memang gila. Bagaimana Farri membuka intro lagu ini yang terdengar ganjil, hingga saat Rekti meraungkan penggalan, “How could you say, you paid attention…yet keep making the same mistake…?” adalah dua dari banyak hal yang membuat saya tidak pernah ragu mendaulat lagu ini sebagai yang terbaik di album Detourn.

Efek yang sama juga terasa saat “Tired Eyes” mengudara. Dua menit terakhir dari lagu ini, adalah senggama musikal pada titik terbrutal, yang jika tidak berhati-hati, bisa saja membuat anda pulang dengan telinga berdarah.

Jika empat tahun lalu The SIGIT menggandeng sejumlah band lokal untuk menemani mereka menghajar panggung, maka tidak untuk konser kali ini. Sebagai gantinya, sebaris choir diangkut ke atas panggung demi menemani sang vokalis bernyanyi. Akibatnya terasa saat beberapa lagu, termasuk “Owl and Wolf”, dinyanyikan. Lelaki tidak seharusnya menangis karena masalah asmara. Tapi saya akan sangat maklum jika saja saat itu menemukan sebaris pemuda tanggung mendadak basah matanya sembari menggaruk dada begitu “Owl and Wolf” dialunkan dengan para choir sebagai suara latarnya.

Kalaupun ada yang kurang, itu ada bagaimana konser berakhir dengan cara yang datar. Banjir crowdsurf pada akhir acara – termasuk saat Rekti melemparkan tubuhnya ke arah penonton di penghujung konser – mungkin adalah satu dari sekian banyak momen tak terlupakan yang beredar di sepanjang konser ini. Tapi tetap, konser berakhir tanggung begitu saja seolah tanpa ledakan akhir yang meruntuhkan ekspektasi penonton hingga tak bersisa.

Untungnya semuanya tetap berjalan menyenangkan berkat vibe yang memang sudah terbangun sejak awal. The SIGIT – dengan segala jam terbang yang mereka miliki ¬– bahkan tidak memberi kesempatan kepada penonton untuk bernapas dengan langsung menghajar mereka tepat begitu konser dimulai. Plus tata suata (drum terdengar sangat menggelegar!) dan lighting yang nyaris bekerja tanpa hambatan, “DETOURNEMENT” adalah sesuatu yang pantas untuk diceritakan ke anak-cucu kita kelak, persis seperti harapan yang sempat Rekti utarakan di pertengahan konser.

And finally, we can only say that The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, are absolutely a super group indeed.

Teks: Risyad Tabattala
Foto: Muthia Fani Dadung

Konser Koin Keadilan Untuk Prita BDG w/ The S.I.G.I.T, The Milo, Alone At Last, Goodboy Badminton, Bottlesmoker, etc @ Score Bandung

December 20, 2009
1:00 pmto5:00 pm

Minggu 20 Des 2009
13.00-17.00
Score Ciwalk
Cihampelas Bandung

Sumbangan: 20K

with
The S.I.G.I.T
The Milo
Alone At Last
Goodboy Badminton
Bottlesmoker
Godless Symptoms
Mortified