Tag Archives: The Brandals

BRNDLFEST-FLYER

BRNDLFEST 2013

December 19, 2013 2:00 pmtoDecember 22, 2013 2:00 pm

Dalam rangka merayakan eksistensi The Brandals di peta musik Indonesia selama 12 tahun, akan digelar panggung musik dan eksibisi seni tepat di hari ulang tahun band, Minggu tanggal 22 Desember 2013 di Rolling Stone Cafe Jakarta. Mengangkat konsep festival musik dengan tema ‘Cerita Mutasi Urban’, acara ini tidak hanya menampilkan konser musik The Brandals, tapi juga mengangkat sejarah band secara intensif. Mulai dari kelahiran para personil, masa kecil dan remaja, hingga era awal terbentuknya The Brandals. Semua proses perubahan tadi dilalui bersamaan dengan bermutasinya Jakarta sebagai backdrop kota urban yang menjadi tulang belakang sejarah dan pengaruh terbesar pembentukan karakter musik The Brandals.

Pada akhirnya perjalanan sejarah band dan personil nya juga merupakan refleksi perubahan Jakarta beserta warganya yang bermutasi dari masa ke masa dengan muatan konteks elemen sosial, politik, budaya dan kesenian-nya. Karena itu konsep acara diberi tema Cerita Mutasi Urban

Selain penampilan The Brandals sebagai pamungkas, akan ada pula program acara lain seperti pemutaran perdana film dokumentasi Marching Menuju Maut dari sutradara Faesal Rizal yang tertunda hampir 7 tahun, tapi akhirnya bisa diselesaikan dan diputar di event ini. Pemutaran video klip dari single Abrasi yang disutradarai Anton Ismael. Pameran fotografi band karya Ade Branuza (yang juga bertindak sebagai Road Manajer). Pelepasan album tribute to The Brandals yang diberi judul Brigade EP, serta perilisan DGNR8 : RMX, versi remix album terakhir DGNR8 oleh beberapa DJ lokal. Selain itu ditampilkan juga penampilan band para Brigade Rock n Roll (penggemar The Brandals) seperti Lampu Kereta dan The Badunks sebagai aksi pembuka.

SONY DSC

Review Event : Come Together (Sinjitos 10th Anniversary)

Sinjitos, sebuah label rekaman Indonesia ternama di kalangannnya menggelar sebuah acara musik kaya akan nuansa ekletik di usia yang sudah mencapai satu dekade. Telah mengasuh beberapa musisi/band seperti Lala Karmela, Backwood Sun, Monkey to Millionaire, Bayu Risa hingga Santamonica turut meramaikan “Come Together”—tajuk yang dipilih untuk acara anniversary ini—bertempat di Foundry No 8, SCBD. Hogi Wirjono dan bintang tamu Jagz Kooner (DJ sekaligus Produser terkenal dari UK) ikut menambah meriah di penghujung acara.

Sebagai pemantik awal dipilihlah Monkey To Millionaire (MTM) dengan formasi Wisnu Adji (Vokal/Gitar), Agan Sudrajat (Bass), dan kedua additional player yang hampir secara keseluruhan memainkan album terbarunya bertajuk Inertia. Sambil diselingi ucapan “selamat ulang tahun Sinjitos!” sebagai bentuk interpretasi terima kasih kepada label rekaman yang membesarkan nama MTM sejak album perdananya, Lantai Merah. “M.A.N”, “Senja Membunuh”, “Sepi Melaju”, merupakan nomor-nomor memekakan telinga kurang mencairkan suasana penonton yang begitu dingin mengasup musik unit alternatif-rock ini hingga usai penampilan.

Kemudian, ada seorang solois muda yang menggabungkan Jazz, Electronic, Rock dalam satu kemasan bernama Bayu Risa. Tampil penuh enerjik bersama band pengiring dibubuhi modern dance dengan skill powerfull. Ini kali pertamanya saya melihat peforma pria yang memiliki nama asli Bayu Purwadi Risakotta secara langsung. Fandy DFMC (Vokalis Agrikulture) ikut juga mengisi di beberapa lagu sebagai kolaborator. Tapi, lagi-lagi sangat disayangkan, situasi kurang mendukung untuk berinteraksi kepada pengunjung yang masih malu saat aksi secara sahut-sahutan pada lagu terakhir.

Selanjutnya, suguhan pop manis dari Lala Karmela cukup mengademkan telinga sebentar. Datang bersama materi-materi album Between Us sebagai tahap ‘perkenalan’. Tampil memukau dan komunikatif setiap habis lagu selalu menjadi trik sukses untuk menarik perhatian penonton. Apalagi kaum adam yang lebih banyak terlihat aktif mengabadikan Lala lewat kamera ponsel mereka daripada menghayati lirik lagu yang dinyanyikan.

Backwood Sun, sekumpulan pemuda yang mendeskripsikan aliran musik mereka ‘magic folk’ di setiap partikel lagunya menjadi penampil keempat dalam ulang tahun Sinjitos kesepuluh. Mengharmonisasikan vokal mewah serta melibatkan emosi yang menjadi inspirasi dalam penciptaan lirik. Seperti hasil kawin silang antara Fleetwood Mac dan Mumford and Sons yang melakukan perjalanan panjang di padang gurun. Begitulah analogi singkat saat “Seven Shadows”, “The Man Has Come”, “Wilderness” melantun dengan santai bersama visual yang ciamik.

Lalu BRNDLS—akronim dari The Brandals setelah masuk label Sinjitos—membuat liar suasana dengan set up panggung elegan. “DGNR8” dipilih menjadi lagu pembuka guna untuk mengsinkronisasikan instrumen diikuti “Long Way Home”. Kolaborasi antar BRNDLS bersama Ucok (Homicide) harus digantikan orang lain saat membawakan “Abrasi”. Para Brigade (sebutan fans untuk BRNDLS) juga ikut body surfing di bibir panggung. Aksi klimaks pun dilayangkan seusai “Perak”, mengakhirinya dengan kondisi stage berhamburan alat musik yang mereka sengaja banting.

Seharusnya The Porno ikut mengisi bagian di acara ini, namun karena kondisi kesehatan sang drummer yang kurang memungkinkan bergabung akhirnya mereka lebih memilih tidak hadir.

Setelah dua tahun tak muncul di permukaan publik, malam itu Santamonica spesial tampil untuk memperingati satu dekade Sinjitos—yang dimana kita ketahui kalau Joseph Saryuf (synth) merupakan produser utama label rekaman ini. Terdengar nada kegrogian menyambut penonton yang sudah siap menantikan mereka. Malam itu membawakan tembang-tembang penuh memorabilia di zamannya seperti “Silent Society”, “Wanderlust”, dan “Ribbon and Tie”. Memang sulit membangun suatu ‘keintensitasan’ dalam band yang vakum dalam itungan tahun. Tapi, keseluruhan mereka cukup solid mengembalikan nuansa skena musik 2005 di Foundry No 8.

“Come Together” diteruskan oleh produser sekaligus DJ yang bertanggung jawab atas dirombaknya lagu-lagu milik Oasis, Primal Scream, Bjork hingga Royal Trux secara remix bernama Jagz Kooner. Memiliki skill meramu musik sejak umur 12 tahun bukan suatu hal yang heran jika ia bisa diajak berkerja sama oleh Andrew Weatherall (seorang DJ kawakan) pada usianya yang ke 20. Dilanjut dengan Hogi Wirjono yang beraksi sampai subuh tiba menandakan  Sinjitos 10th anniversary telah berakhir.

For more photos click here.

SINJ10 Flyer Final

Come Together – Sinjitos 10th Anniversary

November 29, 2013 1:00 pmtoDecember 6, 2013 1:00 pm
Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-10 pada bulan Desember ini, Sinjitos Records menggelar sebuah acara musik eklektik bertajuk “Come Together-Sinjitos 10th Anniversary”, yang menggabungkan berbagai macam genre, dari rock, pop, soul hingga electronic.
Bertempat di Foundry No 8, SCBD, sebuah konsep unik telah disiapkan oleh para headliners yang terdiri dari band-band asuhan Sinjitos Records maupun artis yang memiliki visi serupa seperti Santamonica, The Brandals, LALA, The Porno, Backwood Sun, Monkey to Millionaire, Bayu Risa dan Hogi Wirjono.
Pada penghujung acara, DJ sekaligus Produser (Primal Scream, Oasis, Massive Attack, Kasabian, Manic Street Preachers, dsb) terkenal dari UK, Jagz Kooner akan menjadi bintang tamu yang menutup perhelatan spesial ini.

BRNDLS – DGNR8

  BRNDLS - Start Bleeding (4.0 MiB, 4,015 hits)


Saya harus berterus terang kalau saya menyukai album ini, setelah sebelumnya kecewa bukan kepalang dengan album “Brandalism” yang lebih mirip band rock tanpa energi. Album DGNR8 ini adalah evolusi musik band kesukaan saya ini yang dipicu oleh masuknya dua personel baru, dan simbiosis mutualisme dengan produser Joseph Saryuf aka Iyub dari Sinjitos Records.

Musik mereka tetap rock n’roll yang kasar, kotor dan ber-attitude, hanya saja kali ini ditambah efek psikedelia dan layer-layer suara bertumpuk-tumpuk plus aransemen yang cenderung lebih rumit yang akan lansung mengingatkan musik mereka kali ini pada Primal Scream.

Bukan hanya pada musik, tetapi juga pada rebranding BRNDLS dan judul album DGNR8 yang juga mengingatkan pada PRMLSCRM dan XTRMNTR, yang untungnya didukung oleh aransemen mumpuni dan produksi yang asoi sehingga malah memberikan pujian pada album ini.

Favorit saya pada saat Morgue Vanguard dari Homicide turut memuntahkan kata-kata pada lagu Abrasi, dan lagu Perak yang membuat saya bangga tanpa alasan jelas; mungkin karena lagu ini beat nya asik dan berbahasa Indonesia yang terasa pas dengan beat dan rasa-rasanya meneriakkan “… tajam berkilau menusuk jantungmu…”

Secara garis besar, walaupun ini berasa banget Primal Scream nya (minus logat a’la England), tapi it’s OK karena mereka melakukannya dengan baik.