Tag Archives: Navicula

19 January_@america_Presentation_ENGLISH COMIC_eposter_indo

NAVICULA – Dropping the “Love Bomb” from Bali to Los Angeles

March 1, 2014
7:00 pmto10:00 pm

19 January_@america_Presentation_ENGLISH COMIC_eposter_indo Sabtu esok, 1 Maret 2014, Navicula akan berbagi kisah di @america, Pacific Place, Jakarta tentang pengalaman mereka sebagai band Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan untuk merekam 5 lagu dari album terbaru mereka, LOVE BOMB, di studio legendaris Record Plant atas bantuan RODE.

Tak hanya itu proses produksinya pun langsung ditangani oleh produser kreatif Alain Johannes yang dikenal kepiawaiannya dalam menangani musisi hebat dunia, seperti: proyek solo Chris Cornell dan Jimmy Eat World. Johannes juga pernah tampil dalam proyek album dan film dokumenter Sound City yang disutradarai Dave Grohl dan sempat menjadi kolaborator untuk Them Crooked Vultures dan Queens of the Stone Age.

Berikut kita cantumkan cuplikan atas catatan audio-visual Navicula saat masuk dapur rekaman di studio Record Plant di Hollywood melalui akun resmi Youtube mereka (Navicula Bali): 

Sabtu esok ini tepatnya jam 7 malam di @america, Pacific Place, lantai 3, Jakarta Selatan, Navicula juga akan mengobati kerinduan para penggemarnya di ibu kota melalui showcase yang memainkan lagu-lagu terbarunya di album Love Bomb.

Sebagai informasi tambahan, konsep packaging album Love Bomb ini, mereka menggunakan material yang lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan material plastik.Untuk sampul albumnya, mereka memutuskan memakai material daur ulang tetra pak yang biasa digunakan sebagai kemasan minuman, dikombinasikan dengan kertas daur ulang dan karet ban dalam. Pengerjaan sampul album mereka dikerjakan oleh komunitas Sapu dari Salatiga.

navicula-busur-hujan-greenpeace

Navicula – Busur Hujan (Video Clip)

Video klip terbaru Navicula yang baru diupload beberapa hari lalu ini di ambil di atas kapal Rainbow Warriors milik Greenpeace yang dipadukan dengan berbagai cuplikan video dokumentasi milik Greenpeace. Dengan lirik yang tampaknya bercerita tentang kapal legendaris tersebut.Lagunya sendiri masih khas Navicula dengan karakter yang lebih melodius dari biasanya namun tetap sangar seperti sebelum-sebelumnya.

Sebuah contoh lagu yang kaya dan menarik untuk didengarkan berulang-ulang.

Busur Hujan di cakrawala / Rainbow Warrior on the horizon
Kau rayu hatiku menuju ke sana / you’ve drawn my heart there
Busur Hujan di cakrawala / Rainbow Warrior on the horizon
maha karya jembatan ke gerbang surga / bridging us to the gates of the divine

Ku kembangkan layarku / I let down my sails
arungi samudera ibuku / glide across the oceans of our mother
kan kuhunjam sauhku / I’ll drop down my anchor
ke dalam rahimmu / into your womb

Warna-warni kita menjadi satu 4x / our colors become one 4x
Di dalam rahimmu / into your womb

Busur Hujan di cakrawala / Rainbow Warrior on the horizon
Manusia titipkan mimpinya di sana / carrying our dreams there
Busur Hujan di cakrawala / Rainbow Warrior on the horizon
Ada harta di kakinya, menunggu di sana / a treasure awaits us at the end

Ku kembangkan layarku / I let down my sails
arungi samudera moyangku / glide across the oceans of our ancestors
kan kuhujam sauhku / I’ll drop down my anchor
ke dalam rahimmu / into your womb

Warna-warni kita menjadi satu 4x / our colors become one 4x
Di dalam rahimmu / into your womb

Warna-warni kita menjadi satu / our colors become one

Album Review – Frekuensi Perangkap Tikus

Adalah mustahil bagi saya untuk tidak berkomentar selepas melahap habis sepuluh lagu brilian yang berserakan di album kompilasi Frekuensi Penangkap Tikus. Album ini sendiri merupakan hasil kerjasama antara Indonesia Corruption Watch (ICW) dengan sejumlah musisi independen Indonesia sebagai wujud penolakan tegas mereka terhadap praktek korupsi yang telah menjadi genderuwo di tanah tercinta ini.

Seolah mewakili keberagaman yang telah ribuan tahun membentang di bumi nusantara, kesepuluh lagu di album ini hadir dalam wujud yang multi corak. Mulai dari “Di Sekolah-Sekolah” dari Adrian Yunan Faisal (Efek Rumah Kaca) yang membuat saya menyesal karena jarang belajar serius saat dulu sekolah, “Julius Alpha” dari Zeke Khaseli yang seruwet kasus Century, Iksan Skuter yang tampil dengan selera humor sarkastik lewat balada “Partai Anjing”, “Suap-Suap” dari Harlan Bin yang syahdu, hingga “Kings & Barbarians” dari Sajama Cut yang menjadi penutup manis di album ini.

Ngomong-ngomong, jika anda butuh lagu protes yang menyengat, “Mimpi Basah Pembangkang Sipil” dari Eye Feel Six (plus, Morgue Vanguard) adalah wajib untuk disikat. Ibarat granat tangan yang meledak di telinga, “Mimpi Basah Pembangkang Sipil” adalah tipikal nomor yang langsung menjebol dinding telinga anda sejak awal diputar. Kombinasi kucuran bensin rima sumpah serapah plus percikan api gitar berdistorsi yang menganga, menjadikan lagu ini provokasi sempurna jika anda benar-benar muak dengan para pemimpin nirkompeten berkedok nasionalis (dan/atau) agamis yang menjadi raja di negara mencret bertajuk Indonesia ini.

Dedengkot grunge Navicula tak luput ambil bagian. Terlepas endingnya yang datar dan agak kurang menggigit, “Mafia Hukum” adalah lagu protes yang hadir dalam bentuk yang matang: tempo sedang, riff sederhana dengan benturan distorsi yang terukur, plus lirik anthemic yang mengikat kepala. Sebuah lagu berbahaya yang cukup aman untuk didengar oleh mereka yang lemah jantungnya.

Jika Eye Feel Six tampil penuh sumpah serapah, dan Navicula hadir dalam amarah yang terukur, maka Morfem mungkin berdiri di tengah-tengahnya. Lewat “Kami Bosan Jadi Negara Dunia Ketiga”, Morfem bak menyuarakan rengekan manusia kelas pekerja yang muak setengah mampus dengan kondisi negara ini yang dari dulu segini-segini saja. Tipikal lagu menggelisahkan yang cocok untuk diputar di tengah jalanan ibu kota di kala terik siang.

Sementara Iwan Fals belakangan lebih senang membawakan lagu cinta sembari menjual produk kopi bubuk instan, dan sebagian kita (mungkin juga, termasuk saya) telah menjadi begitu persetan dengan kondisi negara ini, Frekuensi Penangkap Tikus hadir sebagai sinyal penanda zaman yang patut untuk diperhatikan. Sebuah sinyal penanda zaman yang mengabarkan bahwa negara kumuh ini – YA, NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA – tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.

Risyad Tabattala