Tag Archives: Koil

KOIL-by.-Agra-Suseno

Nusa Bangsa Kriminal

Ini lagu baru saja beres dari komputer si Otong Koil, track-tracknya masih kasar banget tapi lumayanlah buat didengerin sih sudah cukup. Lirik dan aransemennya masih mungkin berubah kalau Donny ternyata ga suka.
Jadi harap dinikmati semasa masih bisa.

Ini pesan asli dari Otong

“volumenya masih pelan
fresh mixdown from the vocal room…take vokalnya bbrp hari lalu
cuman gitar drum vokal masi kasar bgt i tink its good enough
hasil ini belom didenger sama don mastermindnya lagulagu koil
kalo dia gak suka bisa dirobah total semua lirik + nada nyanyinya ”

Enjoy.

Kalau yang bawah ini versi tanpa vokal. yg bisa kalian isi sendiri vokalnya. Liriknya ada dibawah yes

Lirik NBK

heii keras berkumandang
agama militan forum kebebasan berdakwah
wahai umat beragama dan keturunannya
tunduklah pada amanat spiritual
pola pikir bebal
konstitusional
bangsat kriminal
demi nusa bangsa kriminal

anda bersalah – anda terdakwa – anda bersalah – anda terdakwa
anda bersalah kami bersedia – anda terdakwa kami tetap setia
anda bersalah – anda terdakwa – anda bersalah – anda terdakwa
anda bersalah kami bersedia – anda terdakwa kami mengabdi

bagaikan berlian lambang kesepian dalam rekening bank
bertaburkan hutang dan bunga turunan akan kami lunaskan
pembodohan
kebodohan
pembodohan global
kebiadaban verbal
konstitusional
bangsat kriminal
demi nusa bangsa kriminal

photo by Agra Suseno.

AMN Coaching BDG-13

Review: AMN Coaching Bandung “Lirik Indonesia Itu Keren”

Telinga yang telah familiar dengan lagu-lagu berlirik bahasa asing, plus begitu minim dan terbatasnya penggunaan kosa kata berbahasa Indonesia, rupanya menjadi alasan yang menyebabkan banyak orang merasa kesulitan untuk menulis lirik berbahasa Indonesia. Begitu dipaksakan, hasilnya pun terasa kurang maksimal: kosa kata yang keluar akan itu-itu saja dan cenderung seragam.

Dua poin di atas adalah salah satu dari banyak hal yang dibicarakan dalam AMN Coaching: “Lirik Indonesia Itu Keren”, Sabtu (22/9). Berlokasi di Bober Cafe Tropicana, acara ini dibuka dengan penampilan dari Mr. Sonjaya serta Bunga Janji tepat saat jarum jam menunjuk angka empat sore. Keduanya bermain dalam set akustik yang mampu bercumbu sempurna dengan hangatnya Bandung sore itu. Saya sendiri cukup menikmati keduanya: Mr. Sonjaya yang tampil dengan vokal yang nyaris menyerupai warna suara vokalis Float, juga Bunga Janji yang tampil begitu rileks dan sukses meniupkan angin sepoi memabukkan ala padang hindustan yang melenakan. Asik.

Tak menunggu lama, setelahnya Anto Arief sang moderator naik mengambil alih panggung. Keempat sosok pembicara malam itu menyusul setelahnya dan berturut-turut menceritakan pengalaman mereka masing-masing dalam menulis lirik. Mulai dari pengalaman Jimi Multhazam yang gagal bercinta tiga kali hingga membuatnya frustasi lalu menuangan perasaannya itu ke dalam barisan lirik penuh ‘amarah’ dan memainkannya bersama bandnya yang terdahulu. Lalu berlanjut dengan Cholil Efek Rumah Kaca (ERK) yang bercerita mengenai panjangnya proses penulisan lirik yang biasanya telah diawali terlebih dahulu dengan komposisi musik yang sudah jadi.

Pasca break adzan maghrib, didahului dengan aksi akustik minimalis plus tepuk tangan dari duet bernama Teman Sebangku, giliran Otong Koil berbagi kisahnya dalam menulis lirik yang ternyata hampir keseluruhannya bermuara pada dua gagasan utama, yakni ajakan untuk terus survive dalam hidup dan terus mencari uang. Terakhir, David Tarigan memberi pandangannya soal ragam penulisan lirik berbahasa Indonesia dewasa ini dari kacamata seorang pelaku bisnis dalam lingkup industri musik.

Lepas pukul tujuh malam, acara di tutup dengan penampilan atraktif dari Morfem dalam format full-band. Lama tidak menyaksikan penampilan mereka malam itu, saya terkejut saat mendapati mereka menyisipkan nomor ‘Sugali’ milik Iwan Fals ke dalam setlist yang mereka malam itu, plus mengubah lagu legendaris tersebut ke dalam versi yang lebih bising, kotor, dan pekat oleh aroma punk.

Diskusi hangat padat manfaat, plus suguhan musik berkualitas. Sebuah kombinasi sempurna untuk melewati suatu petang menyenangkan di kota Bandung.

Adios!

Teks: Risyad Tabattala
Foto: Agra Suseno

KOIL (by. Agra Suseno)

Tentang KOIL, dan Meraba Jejak Mereka

Julius Aryo Verdijantoro, akrab disapa Otong, bukanlah biduan beroktaf sembilan yang rajin hilir-mudik di progam musik pagi stasiun televisi nasional. Dia juga bukan sosok terkenal seantero negeri yang kehidupan pribadinya sanggup memenuhi slot berita di tayangan infotainment. Pun begitu, justru dari tangan juru vokal yang suaranya acap kali gagal kontrol dan jauh dari kata merdu inilah, salah satu sistem penulisan lirik paling brilian dalam satu dekade terakhir lahir dan meracuni alam sadar banyak orang. Dari tangan-nya, realitas dan ambuigitas hanya terpisahkan oleh garis tipis yang barangkali hanya dia sendiri dan Tuhan yang sanggup membedakannya. Tidak menganggap serius segala ucapan pria ini merupakan sebuah kesalahan besar. Menganggapnya serius, adalah sebuah kesalahan yang lebih besar lagi.

Kita tak pernah tahu kapan dia sedang serius, kapan sedang bercanda.

Dan Otong tidak datang sendiri. Bersama kawalan penguasa enam senar, arsitek dari seluruh lagu Koil yang sekaligus juga adiknya sendiri: Donnijantoro, mafioso tata-suara: bassis Adam Vladvamp, dan sang penabuh drum Leon Legoh, mereka tangguh berdiri di bawah bendera KOIL: salah satu kolektif musikal paling tangguh di negeri ini, dalam arti sesungguhnya.

Saya menyebut KOIL sebagai musisi bajingan. Di bawah asuhan mereka, telinga melankolis hingga yang paling ekstrem sekalipun, jadi rukun satu suara. Mereka mampu menunjukkan bahwa masih ada tempat bagi kata merdu, bahkan untuk ramuan industrial paling kejam sekalipun. Di satu waktu Otong hadir sembari menyumpah seluruh isi negara bagai anakan setan penjaga neraka. Di waktu lain, dia mampu menjelma menjadi sosok paling dramatis yang pernah manusia bisa bayangkan. Dulu saya sempat berpikir, dengan musik serupa itu, segmen pendengar seperti apa yang ingin mereka tuju? Nyatanya dugaan saya salah: mereka sanggup merangkul semuanya.

Saya termasuk generasi baru penggemar mereka. Saya tidak sempat merasakan efek langsung dari album pertama KOIL karena pada saat yang sama saya masih terlalu kecil untuk itu. Era Megaloblast juga nyaris serupa. Untungnya saya masih sempat merasakan sisa-sisa kehebohan album tersebut, termasuk salah satunya saat menyaksikan aksi mereka di corong MTV sekitar tahun 2003. Sebuah penampilan yang bisa dibilang kontroversial untuk ukuran TV nasional, di mana saat itu Otong naik ke atas panggung dan bernyanyi sembari menenteng rantai yang mengikat leher dua orang yang merangkak bagai anjing di sisi kiri dan kanan-nya.

Black Light Shines On sendiri, meski mungkin tidak seheboh Megaloblast, buat saya adalah puncak pencapaian artistik mereka sampai saat ini. Di album sebelumnya, mereka yang (sekali lagi, menurut saya) sibuk dengan diri sendiri, di Black Light Shines On mulai keluar kotak dan membagi visi mereka terhadap realita dunia. Jika saya harus mati hari ini dan Tuhan hanya membolehkan saya membawa sepuluh album lokal untuk menemani saya di akhirat sana, maka Black Light Shines On pastilah salah satu yang akan saya bawa.

Jika anda melihat dari perspektif industri, KOIL juga sama bajingannya. Saat musisi lain sibuk menyerukan kampanye anti pembajakan demi menyelamatkan pemasukan mereka dari hasil penjualan rilisan fisik, dengan santainya KOIL melepas Black Light Shines on secara gratis ke pasaran. Dan saat banyak golongan mulai memuji mereka atas keputusan berani melepas Black Light Shines on secara gratis, KOIL justru kembali dengan langkah tak terduga: merilis versi repackaged dari Black Light Shines On dalam bentuk fisik di bawah naungan Nagaswara (tentu saja yang ini tidak gratis). Juga saat banyak orang mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan arena non-mainstream, mereka justru menggelar kerja sama serta kolaborasi dengan Ahmad dhani serta Charly ST12!!! Untuk nama yang pertama mungkin saya tidak masalah, tapi untuk yang kedua saya masih geleng-geleng kepala sampai sekarang.

Di tengah segala anomali yang kerap mereka tebar, satu hal yang pasti, KOIL tetaplah berdiri di kaki sendiri tanpa perduli omongan orang. Dan dengan caranya sendiri, mereka tetap hidup….sampai sekarang.

Empat tahun lebih pasca Black Light Shines On dirilis, dan masih belum ada tanda-tanda kapan album terbaru mereka akan merangsek ke pasaran. Meski salah satu majalah franchise Amerika menyebut band ini sedang dalam tahap pembuatan album terbaru, sejujurnya saya tetap takut dan malas untuk berharap. Jika kita menengok ke belakang, maka kita akan tahu bahwa KOIL adalah tipikal musisi yang membutuhkan rentang waktu lama antara pengerjaan satu album ke pengerjaan album berikutnya. Dalam salah satu tulisannya, seorang jurnalis musik ibu kota bahkan berani berprediksi bahwa album mereka paling cepat baru akan keluar pada tahun 2013 nanti. Masih lama sekali.

Akhir kata, saya cuma bisa berdoa agar prediksi jurnalis itu salah dan album KOIL selanjutnya dapat hadir setahun lebih cepat. Semoga.

Teks: Risyad Tabattala
Foto: Agra Suseno

Liputan Konser Tunggal Koil

Menyanyikan Lagu Perang di Konser Perdana KOIL

Saat tanggal sudah ditetapkan dan para pangeran kegelapan telah bergegas turun dari singgasana, maka tibalah saatnya untuk menggelar ritual persembahan untuk menyambut kedatangan mereka. Pada Kamis 24 Februari 2010, venue Sabuga ramai dipenuhi oleh gerombolan fans berkostum hitam-hitam yang telah memadati venue jauh sejak matahari belum terbenam. Malam itu, Koil menggelar konser tunggal mereka untuk yang pertamakalinya. Sebuah konser dengan set yang bisa jadi adalah yang terpanjang sejak awal sejarah karir mereka.

Saya sampai di venue tepat setelah matahari terbenam. Sempat berputar-putar menikmati dekorasi di gerbang pembuka, saya mulai merangsek kedepan panggung saat Anto Arief menyelesaikan tugasnya sebagai opening act pada malam itu. Mendekati pukul delapan malam, pencahayaan dipadamkan dan venue indoor Sabuga mendadak berselimut gelap. Gitaris Donnijantoro, bassis Adam Vladvamp, serta drummer Leon Ray Legoh menyelinap di balik kegelapan dan membuka panggung dengan kompisisi yang meraung panjang, disambut oleh riuh penonton yang membanjir di bibir panggung. Terlebih saat di akhir komposisi pembuka tersebut, sosok Otong sang vokalis muncul dari balik panggung dan menyapa penonton. Lengkap sudah. Para pangeran kegelapan telah datang, saatnya ritual dimulai.

‘Nyanyikan Lagu Perang’ menjadi menu pembuka malam itu, disusul berturut-turut ‘Sistem Kepemilikan’ serta ‘Aku Lupa Aku Luka’ yang otomatis disambut dengan koor massal oleh penonton. Sempat disela dengan semprotan orasi Otong pada tiap jeda lagu, sesi awal berlanjut dengan ‘Rasa Takut Adalah Seni’, ‘Ajaran Moral Sesaat’, dan beberapa nomor lain sebelum akhirnya ditutup dengan ‘Hanya Tinggal Kita Berdua’.

Meninggalkan distorsi, Koil membuka sesi berikutnya dengan set akustik. ‘Kesepian Ini Abadi’, ‘Lagu Hujan’, dan ‘Murka’ menjadi suguhan mereka pada sesi ini. Potongan glitter yang bertebaran dari langit-langit venue semakin menambah daya pikat sesi akustik malam itu. “Ku akan pergi saat hujan reda…walaupun lama pasti reda juga..”, terdengar sepasang kekasih ikut bernyanyi bersama dalam pelukan tepat disamping tempat saya berdiri.

‘Hanya Tinggal Kita Berdua’ kembali menggiring penonton dalam racun distorsi industrial selepas berakhirnya sesi akustik. Dilanjutkan dengan ‘Kita Dapat Diselamatkan’ yang menenggelamkan penonton pada era keemasan album Megaloblast satu dekade silam. Klimaks konser mendekati puncak saat ‘Semoga Kau Sembuh Pt. II’ dimainkan dengan begitu bengis. ‘Mendekati Surga’ dan ‘Kenyataan Dalam Dunia Fantasi’ menjadi lagu pamungkas malam itu. Tidak ada encore. Koil hanya melakukan salute panjang serta sesi foto membelakangi penonton sebelum akhirnya menghilang di balik panggung.

Penting untuk menyoroti sesi bagi-bagi doorprize di pertengahan konser yang terlalu lama sehingga buat saya merusak flow acara yang telah susah payah dibangun sejak awal konser dimulai. Beruntung performa tata suara bekerja prima malam itu meski sempat kurang maksimal di awal konser. Keputusan Koil menggandeng seorang kibordis dan dua orang penyanyi latar, salah satunya adalah Risa Saraswati, juga terbukti ampuh. Mereka berhasil memberi kontribusi signifikan, terutama pada ‘Semoga Kau Sembuh Pt. II’ yang saya nobatkan sebagai puncak performa mereka malam itu. Bahkan mungkin salah satu performa terbaik yang pernah saya saksikan sejak pertamakali menonton live mereka bertahun-tahun yang lalu. Dengan segala keterbatasan yang ada, konser tunggal ini telah memantapkan posisi Koil sebagai salah satu dari segelintir musisi bermartabat di Indonesia. Untuk sementara mari sejenak lupakan Rammstein dan Nine Inch Nails, karena di Indonesia, kita punya Koil.

Words by Risyad Tabattala, Photos by Anugerah Suseno