weezer-agung-hartamurti-6995

Review: Weezer Concert – Jakarta

Kalau saya saja yang baru mengenal Weezer sebelas tahun yang lalu begitu bahagia malam itu, entah seperti apa perasan mereka yang telah menggemari Weezer sejak album pertama.

Malam itu, 8 Januari 2013, bisa jadi adalah satu malam terbaik dalam hidup mereka.

Total jenderal, 21 lagu berisi deretan lagu terbaik Weezer, plus sepaket utuh Blue Album menjadi menu suguhan malam itu, yang tentu saja sangat mengenyangkan telinga. Dibuka dengan “If You’re Wondering (If I Want You To)” yang masih terhitung sebagai lagu baru, konser berlangsung dengan alur mundur bak mesin waktu dengan dimainkannya “Pork and Beans”, “Troublemaker”, “Perfect Situation”, “Beverly Hills”, hingga ke “Island in The Sun” yang sukses membuat venue Lapangan D Senayan malam itu mendadak beraroma surga.

Lepas rehat yang diisi oleh slide mengharukan berisi tumpukan foto-foto historis sejak awal berdirinya band ini, keempat personel Weezer kembali naik ke panggung. Tibalah saatnya bagi nomor-nomor dari Blue Album untuk mengudara, dengan urutan tepat seperti yang selama ini kita dengarkan di album tersebut.

Momen paling seru tentu saja jatuh saat “Buddy Holy” mengudara. Saat itu, histeria telah pecah dan penonton kontan berjingkrak lepas kendali sembari ber “ooh-wee-ooh” ria mengikuti setiap penggal nyanyian yang keluar dari mulut Rivers Cuomo. “Surf Wax America” dan “Say It Ain’t So” juga sukses menjadi pemancing koor masal, dimana penonton (yang mayoritas tampak telah menginjak usia pertengahan dua puluh tahun ke atas) bisa bernyanyi sekencang-kencangnya seolah tidak sadar bahwa esok masihlah hari kerja. Goddamn workers!

Saat bassline solid dari Scott Shriner mulai dimainkan sekaligus membuka “Only In Dreams”, saat itu pula saya segera tersadar bahwa konser akan segera berakhir. Dan dengan serangan gitar Brian Bell dan Rivers Cuomo yang saling bersenggama di akhir “Only in Dreams” yang begitu panjang dan sukses membuat telinga saya terbang, konser malam itu berakhir dengan sempurna.

Berbicara tentang hal spesial dari konser terebut, saya tak menyangka bahwa Rivers Cuomo yang tampak kikuk di balik kacamata tebalnya itu, ternyata begitu komunikatif di atas panggung. Beberapakali dia mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia, serta mengakhirinya dengan kata “Sip!” yang lumayan mengocok perut. Bahkan dalam satu kesempatan, kalau saya tidak salah dengar, dia sempat meneriakkan kata “PAPUA!” di atas panggung. Bentuk dukungannya atas gerakan Free Papua, mungkin? Entahlah.

Di luar sistem ticketing dan manajemen antrean yang super buruk, konser Weezer malam itu tentu saja bak pelepas dahaga sekaligus surga dunia bagi para penggemar generasi 90an yang telah menantikan kedatangan band asal Amerika ini sejak dua dekade lalu. Buat saya sendiri, konser Weezer kemarin juga sekaligus menunjukkan bahwa Blue Album adalah salah satu contoh album dengan susunan lagu yang baik, dan bahkan tampil tanpa cela saat dimainkan sesuai urutan di atas panggung.

Tidak ada encore untuk malam itu. Tapi sebagian besar wajah yang saya temui selepas konser, tampak begitu cerah dan sumringah. Maklum, nabi musikal baru saja datang, dan mereka beruntung bisa menjadi saksi hidup kedatangannya.

Man, it’s not only in dreams.

Teks: Risyad Tabattala
Foto: Agung Hartamurti & Robby Wahyudi

One thought on “Review: Weezer Concert – Jakarta”

  1. thanks artikel dan dokumentasinya. keren

    nambahin aja, yang menarik juga waktu lagunya girlband Jepang dibawain sebelum Island in the Sun

    tiketing emang parah. gara2 becek sih memang.
    akibatnya pengunjung dengan tiket reguler bisa masuk ke tempat premium

    overall sih keren.. penantian bertahun-tahun

    twitter.com/loovomusic

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>