Telinga yang telah familiar dengan lagu-lagu berlirik bahasa asing, plus begitu minim dan terbatasnya penggunaan kosa kata berbahasa Indonesia, rupanya menjadi alasan yang menyebabkan banyak orang merasa kesulitan untuk menulis lirik berbahasa Indonesia. Begitu dipaksakan, hasilnya pun terasa kurang maksimal: kosa kata yang keluar akan itu-itu saja dan cenderung seragam.
Dua poin di atas adalah salah satu dari banyak hal yang dibicarakan dalam AMN Coaching: “Lirik Indonesia Itu Keren”, Sabtu (22/9). Berlokasi di Bober Cafe Tropicana, acara ini dibuka dengan penampilan dari Mr. Sonjaya serta Bunga Janji tepat saat jarum jam menunjuk angka empat sore. Keduanya bermain dalam set akustik yang mampu bercumbu sempurna dengan hangatnya Bandung sore itu. Saya sendiri cukup menikmati keduanya: Mr. Sonjaya yang tampil dengan vokal yang nyaris menyerupai warna suara vokalis Float, juga Bunga Janji yang tampil begitu rileks dan sukses meniupkan angin sepoi memabukkan ala padang hindustan yang melenakan. Asik.
Tak menunggu lama, setelahnya Anto Arief sang moderator naik mengambil alih panggung. Keempat sosok pembicara malam itu menyusul setelahnya dan berturut-turut menceritakan pengalaman mereka masing-masing dalam menulis lirik. Mulai dari pengalaman Jimi Multhazam yang gagal bercinta tiga kali hingga membuatnya frustasi lalu menuangan perasaannya itu ke dalam barisan lirik penuh ‘amarah’ dan memainkannya bersama bandnya yang terdahulu. Lalu berlanjut dengan Cholil Efek Rumah Kaca (ERK) yang bercerita mengenai panjangnya proses penulisan lirik yang biasanya telah diawali terlebih dahulu dengan komposisi musik yang sudah jadi.
Pasca break adzan maghrib, didahului dengan aksi akustik minimalis plus tepuk tangan dari duet bernama Teman Sebangku, giliran Otong Koil berbagi kisahnya dalam menulis lirik yang ternyata hampir keseluruhannya bermuara pada dua gagasan utama, yakni ajakan untuk terus survive dalam hidup dan terus mencari uang. Terakhir, David Tarigan memberi pandangannya soal ragam penulisan lirik berbahasa Indonesia dewasa ini dari kacamata seorang pelaku bisnis dalam lingkup industri musik.
Lepas pukul tujuh malam, acara di tutup dengan penampilan atraktif dari Morfem dalam format full-band. Lama tidak menyaksikan penampilan mereka malam itu, saya terkejut saat mendapati mereka menyisipkan nomor ‘Sugali’ milik Iwan Fals ke dalam setlist yang mereka malam itu, plus mengubah lagu legendaris tersebut ke dalam versi yang lebih bising, kotor, dan pekat oleh aroma punk.
Diskusi hangat padat manfaat, plus suguhan musik berkualitas. Sebuah kombinasi sempurna untuk melewati suatu petang menyenangkan di kota Bandung.
Adios!
Teks: Risyad Tabattala
Foto: Agra Suseno







