Lama tak beredar, Zoo malah melansir album seminal “Trilogi Peradaban”…
Cukup lama semenjak album mini “Kebun Binatang” milik punggawa dari lini terdepan musik eksperimental, Zoo dirilis. Akhirnya penantian panjang itu lunas terbayar dengan album prestisius “Trilogi Peradaban” yang rilis dibawah netlabel Yes No Wave Music. Dan ritus musikal malam itu adalah presentasi karya mereka kepada publik…
Di pelataran depan terdapat sebuah stand sablon bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik Zoo. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias logo album terbaru Zoo. Cukup banyak penonton yang melirik dan menggunakan jasa ini sembari menunggu pintu masuk dibuka.
Pukul 8.15 menit pintu masuk telah ditutup, pertanda sesi pertama pertunjukkan akan segera dimulai. Dedaunan yang sengaja dibawa oleh penonton sebagai tanda masuk disebar disekitar panggung. Sebelumnya MC Ican sempat membacakan harapan-harapan penonton yang tertulis pada dedaunan tersebut. Dan kabarnya dedaunan ini akan disimpan sebagai arsip Zoo untuk kepentingan visual album berikutnya.
Lampu temaram yang di-set sedemikian rupa menambah khusyuk prosesi musikal malam itu. Di bagian belakang panggung terdapat sebuah giant screen yang menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil remix atas film Baraka. Seperti yang dituliskan di brosur yang dibagikan gratis seminggu sebelum pertunjukan ini dimulai, pertunjukan ini memang dirancang supaya penonton tak hanya menonton penampilan Zoo tapi juga menikmati pemutaran film. Seolah-olah musik Zoo bertindak sebagai scoring film tersebut. Tak berapa lama Rully sang ujung tombak serangan menghampiri keyboard yang terletak di sudut kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Ada atmosfir tertentu kala dia mengucapkan baris demi baris yang terangkai. Bhakti sang bassist dan dan Obet sang drummer lalu muncul untuk menggauli peralatan masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain.
Band yang berdiri tahun 2004 itu memang tidak memasang line-up seorang gitaris, namun kekosongan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap komposisi musik yang dikonstruksi. Bass line yang tebal dengan eksplorasi efek-efek maut disertai daya jelajah sang drummer yang melebihi jangkauan rudal balistik sudah cukup membangun tatanan eksplosif. Bagi yang akrab dengan The Locust, Naked City, atau Melt Banana, mungkin Zoo dapat disejajarkan. Tapi penambahan unsur etnik menjadikan Zoo sebagai band interdisipliner yang layak mendapat posisi diatas rata-rata. Part-part ganjil, eksplorasi sound yang elegan, dan rhythm yang non-linier adalah resep andalan yang dipertahankan sejak kemunculan pertama mereka.
Kemudian Rully berduet dengan Didit dari Cranial Incisored, memainkan sebuah nomor brutal dan chaotic dengan akurasi tinggi. Asimetris, progresif dan ekstra minimalis. Tak berhenti sampai disitu, 2 personel Armada Racun didaulat untuk turut serta pada lagu berikutnya. Nadia pada keyboard dan Dani pada bass. Mereka bersenyawa dan bersatu padu.
Rehat sejenak, kekosongan waktu digunakan untuk ber-interaksi antara Zoo dengan penonton maupun media. Tak sedikit penonton yang aktif melempar pertanyaan perihal album terbaru mereka. Setelah sesi dialog berakhir, giliran Zoo lagi untuk perform di sesi kedua. Rully tampil jumawa bersandang Jimbe-nya (sejenis bongo) dengan bertelanjang dada. Konsentrasi penonton tertuju di panggung sementara Rully menguasai tiap inci panggung. Kini giliran Adi Restyadi pada biola tampil gemilang menambah efek seremonial. Tiap gesekan menghasilkan daya tarik tersendiri dan mampu mengimbangi “kebisingan” pemain lain. Di penghujung acara, Zoo tampil bersama para pendukung acara sekaligus. Penonton hanya khidmat terpukau, menyimak tiap detik gelaran acara tersebut sambil sesekali berteriak meriah. Mereka tampak puas dengan format acara yang unik disertai pengisi acara dan merchandise yang unik pula.
Album Trilogi Peradaban yang terdiri dari 3 babak dengan total 22 lagu dapat diunduh gratis lewat situs Yes No Wave. Tapi bagi yang berjiwa kolektor, album ini juga rilis dalam format CD-R dengan kemasan kotak kayu yang worth to buy dan tentunya limited edition.
Adi Renaldi (Yes No Wave Music)





{ 1 comment }
[DRS]: Pentas Peluncuran Album Trilogi Peradaban Zoo @ Kedai Kebun Forum 25 Juli http://bit.ly/3UXF2q
This comment was originally posted on Twitter
Comments on this entry are closed.