Sebenarnya saya sendiri bingung, kenapa saya sampai bisa sampai membuat tulisan. Tapi ya, sudahlah. Mari kita mulai.
Hey Stereo adalah Gilang (Vokal, groovebox, programming, etc.), Beth (Gitar, vokal latar, synth), dan Adit (Drum). Berdiri pada 2010, band yang sempat meraih posisi runner up pada sebuah kontes musik regional ini sepakat menunjuk techno beat/elektronik sebagai genre musik yang mereka usung.
Tapi itu kata mereka.
Buat saya sendiri, efek elektronik (terutama pada departemen vokal) justru membuat mereka terdengar cukup mengganggu, seolah bagai robot tanpa emosi yang dipaksa bernyanyi oleh sang majikan. Jika efek itu sengaja digunakan untuk menutupi keterbatasan skill olah vokal mereka, dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa keputusan tersebut justru gagal memberi dampak positif.
Konsep trio minimalis yang mereka usung juga belum berhasil memberi kontribusi signifikan hingga membuat musik mereka nyaris tak terselamatkan. Beat yang monoton di hampir seluruh penjuru lagu mereka, bebunyian elektronik yang begitu cheesy dan justru membuat risih plus gatal telinga, hingga departemen gitar yang tidak jelas apa fungsi dan sumbangsihnya, adalah kelemahan dasar yang harus mereka pikirkan matang-matang jalan keluarnya.
Bagusnya, Hey Stereo punya deretan lagu-lagu dengan tema seringan kapas khas remaja yang baru mencicipi nikmatnya cinta monyet untuk kali perdana. Ditambah paras tampan dan gaya chic para personelnya, bisa jadi menghasilkan kombinasi ampuh sebagai magnet kuat dalam menjaring ribuan fans (terutama, tentu saja, dari kalangan muda-mudi yang selama ini menjadikan Owl City sebagai messiah penyelamat industri musik alam semesta).
Dan bila kita menilik jumlah penggemar di akun mereka yang telah menembus angka ribuan, harus kita akui bahwa taktik mereka sejauh ini telah sukses bekerja.
Pict: Hey Stereo Facebook Fanpage







