DRS Special Interview: SEMAKBELUKAR

Sosok berperawakan kecil dengan kacamata hitam berbingkai tebal itu bernama David Hersya. Di balik gestur tubuhnya yang sedikit kikuk, pria ini adalah sosok sentral yang membidani dapur sebuah unit folk/melayu yang kini mulai memantapkan posisinya di kancah lokal kota Palembang.

Melalui sebuah korespondensi via surat elektronik, David Hersya sedikit berbagi cerita tentang scene bermusik kota Palembang hari ini, kitab suci, perjalanan panjang menuju Jakarta, hingga sebagian hidupnya yang dia curahkan untuk menggerakkan kelompok musik yang selama ini telah dia asuh sepenuh hati.

SEMAKBELUKAR namanya.

Oleh: Risyad Tabattala
_____________________

Di luar Anda, sebenarnya siapa saja individu yang berdiri di balik nama SEMAKBELUKAR?

Mereka yang disebut Belukaria Orkestar.

Mini album terakhir anda dirilis oleh Yesnowave. Bagaimana ceritanya?

Ya, mini album itu bertajuk ‘Drohaka. Farid Amriansyah adalah sosok yang memperkenalkan dan menjembatani mini album tersebut – yang awalnya ingin kami rilis sendiri – pada Yesnowave hingga akhirnya mereka bersedia merilis mini album yang hanya berisi tiga buah lagu tersebut.

Seperti apa berlangsungnya proses kreatif dalam setiap penulisan lagu di SEMAKBELUKAR?

Kami kira sama saja seperti teman yang lain, terkadang musiknya mendahului lirik dan syair, pun juga sebaliknya. Tidak ada yang istimewa dalam prosesnya, semua mengalir begitu saja.

Dari mana Anda belajar cengkok khas melayu hingga akhirnya mampu menguasainya dengan sebegitu baik?

Wah, mampu menguasainya dengan sebegitu baik? Hehehee…Terima kasih untuk tuduhannya. Kami tidak akan mampu menanggung fitnahnya :D

Siapa saja musisi yang memberi Anda influens terbesar dalam bermusik?

Siapa saja dan dari mana saja yang kami ketahui tanpa terkecuali.

Videoklip “Malasmarah” tergarap dengan hasil akhir yang baik sekali. Bisa cerita mengenai proses pembuatannya? Itu lokasi pengambilan gambar dilakukan di mana?

Lagi-lagi kami haturkan terima kasih banyak untuk tuduhannya :D Video itu dikerjakan oleh saudara kita Ricky Zulman. Seperti yang terlihat, prosesnya sederhana, begitu saja, pirantinya hanya kamera dan telfon genggam. Tempatnya pun tidak jauh, masih di bumi :D

Scene musik bawah tanah Palembang sepertinya sedang bergairah sekali sekarang. Seperti apa kondisi scene di sana saat ini?

Sebenarnya sudah dari lama bergairah, hanya saja baru lebih terasa sekarang. Banyaknya gigs serta media masa dan sosial yang menjadi penyorot perkembangannya merupakan semacam impian yang terwujud. Sebagian dari mereka mulai muncul dan tampil dengan luar biasa – kami fikir sebagian dari mereka sudah tidak lagi berada di bawah tanah – Ya, scene musik di Palembang memang sedang bergairah dan kami turut bersuka cita karenanya.

Di ranah kesenian tradisional melayu sendiri, apakah pengarsipan karya sastra/musik telah berlangsung dengan baik? Seperti apa bentuknya?

Masyarakat melayu sedari dulu kurang mempedulikan pengarsipan, semua diwariskan secara turun temurun hingga mencapai ke generasi sekarang yang lebih memilih untuk membiarkan warisan itu terbengkalai. Tentu saja kesadaran akan pentingnya pendokumentasian tersebut mulai muncul di saat semua karya satra atau musik Melayu itu sendiri di ambang kepunahan. Bentuk pengarsipannya sendiri, selain berupa barang yang dikoleksi di museum, mungkin juga dilakukan oleh kelompok semacam sanggar atau para individu yang mulai tergerak hatinya.

Bagi mereka yang awam dan berminat untuk menggali kesusastraan/musik melayu, siapa pujangga atau musisi yang Anda rekomendasikan?

Banyak, tetapi kita harus menemui mereka di berbagai daerah dan menurut saya, mungkin ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengunjungi situs seperti www.melayuonline.com yang banyak memuat informasi dan tautan ke semua situs yang mempromosikan Melayu sebelum akhirnya kita benar-benar mengerti, merasa memiliki dan peduli pada budaya yang terabaikan ini.

Banyak lagu anda yang berlirik singkat, namun bermuatan spiritual ‘nendang’ tanpa terkesan sok berceramah. Apa ‘suplemen’ yang anda konsumsi hingga berhasil menulis lirik seperti ini?

Hmmm…Apa ya? Hehehee…berfikir positif , sadar dan tau diri aja. Bener gak sih? Ya, gitu deh. Yang pasti kami bukan penceramah.

Apakah benar, inspirasi penulisan “Lebah” muncul dari salah satu surat berjudul sama yang ada dalam kitab suci? Apa yang ingin Anda sampaikan melalui lagu ini?

Ya, betul. Sejujurnya, hampir semua lirik dan syair yang kami tulis bersandar pada kitab suci – Alqur’an – yang dengan sepenuh hati kami percaya dan yakini sebagai petunjuk atau tuntunan lengkap, ideal lagi sempurna untuk kami, makhluk yang bernama manusia dalam menjalani kehidupan. Kami hanya takut melewati batas dalam penulisan yang pastinya harus kami pertanggung jawabkan, sedang kami menganggap bahwa bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kita lakukan adalah sebuah kebaikan dan kami menginginkan kebaikan.

Mengenai lagu ‘Lebah.’ kita semua pasti setuju (atau tidak?) bahwa kehidupan itu terus berputar seperti roda. Intinya bagi kami, lagu Lebah adalah semacam tombol refresh untuk menyegarkan kembali ingatan – kami – bahwa sebenarnya kami tahu dan mengakui tentang hidup yang terus berputar, tetapi kami senantiasa melupakan hakikat itu disaat kami sedang berada di titik terbawah, maka sepatutnya kami tidak boleh larut dalam kesedihan, dengan tetap menjaga hati seperti lebah menjaga sarangnya, juga seperti madunya yang sangat bermanfaat, kami juga pasti mempunyai sesuatu yang bermanfaat untuk siapa dan apa saja.

Tinggal di Palembang, apakah menyulitkan Anda untuk mempromosikan SEMAKBELUKAR secara lebih luas?

Sudah pasti iya, karena Palembang hanyalah daerah kelas dua? Hehehee…tapi itu bukan masalah, kesulitan dalam promosi itu adalah konsekuensi logis bagi kami yang serba terbatas ini, menurut kami, itu adalah proses dan kami sangat menikmati dinamika berproses.

Perjalanan darat dua puluh jam plus sempat ditilang polisi. Pengalaman apa saja yang dialami SEMAKBELUKAR selama menyambangi Jakarta minggu lalu?

Wuiihh…Buaanyaaakk…karena banyaknya, kami sendiri sampai bingung. Yang pasti, kami senang karena mendapatkan banyak bahan untuk diceritakan kepada anak cucu kami – kita? – kelak bahwa, kemarin itu adalah kali pertama kami mempersembahkan SEMAKBELUKAR di luar Palembang, bermain disatu panggung bersama band-band dan musisi hebat, bertatap muka dan berkenalan dengan orang-orang yang luar biasa di ibu kota :D

Saya penasaran, akan seperti apa format aksi live SEMAKBELUKAR jika suatu saat dihadapkan dengan sebuah panggung raksasa dengan jumlah penonton ribuan?

Hehehee…membayangkannya saja kami takut. Emang bakalan? Wuih, jadi penasaran juga nih :D

Di luar SEMAKBELUKAR, apa aktivitas anda sehari-hari? Apakah menjadi ayah dari seorang gadis kecil memberi Anda inspirasi tambahan dalam berkarya?

Sama seperti orang kebanyakan, berjuang agar tidak kelaparan ;D

Betul, secara pribadi, semua karya ini didedikasikan untuk gadis kecil tersebut, karena melalui kehadiran gadis kecil itulah, alenia pertama catatan perjalanan SEMAKBELUKAR bermula.

Setelah merilis tiga mini album. Apa rencana Anda kedepannya? Berminat untuk merilis full-album dalam skala distribusi lebih luas?

Kami tidak pernah terencana…Hehehee…Aamiin!!!

Terakhir, bisa beri kami daftar pendek musisi/band lokal Palembang yang patut untuk direkomendasikan?

Waduuhh…kami mohon maaf, rasanya itu bukan kapasitas kami, kami tidak layak untuk menjawab itu, sungguh, kami tidak layak, kami tidak layak. Maaf mengecewakan, sekali lagi maaf! Tapi percaya deh, mereka para musisi atau band di Palembang, semuanya baik dan layak untuk direkomendasikan :D

SEMAKBELUKAR (Foto: Ricky Zulman)

SEMAKBELUKAR (Foto: Ricky Zulman)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Plugin from the creators ofBrindes Personalizados :: More at PlulzWordpress Plugins