Berbicara tentang ritual harakiri, album perdana mereka, hingga efek positif menjadi musisi yang merangkap calon psikolog. Sembari berdebar menanti penampilan perdana mereka di kancah nasional dalam acara Radio Show yang akan tayang tepat pada malam nanti (29/8), berikut adalah sesi interview singkat kami dengan unit musikal asal Bandung ini yang berlangsung pada pertengahan Mei lalu via surat elektronik. Berikut petikannya.
“Anatomy For Fabulous Emergency Noise”…Dari mana muncul ide untuk menggunakannya sebagai nama band kalian?
Awalnya Elmo, Babam, sama Hariz mau bikin band yang punya noise, dan akhirnya ngumpulin nama masing-masing, dari nama yang didapet terus digabungin dan jadilah. Tapi nama itu juga menjelaskan bahwa kita ini adalah suatu anatomi yang membangun noise-noise yang hadir di lagu-lagu kita walaupun galau, hahahaha. Suatu anatomi yang membangun noise-noise yang faboluos, itu intinya, dan musik memang sebuah anatomi yang tersusun dari beberapa instrumen didalamnya.
Bisa cerita sedikit tentang asal muasal lagu ‘Emily’, termasuk gimana ceritanya seorang gadis bernama Emily ini bisa dipilih menjadi tokoh sentral dalam lagu ini?
Lagu Emily ditulis awalnya dari kepedulian soal banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, jadi kita tulis lagu itu. Kalau kalian baca liriknya juga, itu merupakan “obrolan” antara kita dengan anak-anak yang mengalami penyiksaan, dan lewat lagu itu kita mengutarakan harapan agar semua kekerasan terhadap anak dihapuskan! Kalau tokohnya sih imajiner, gak tau kenapa yang muncul nama Emily, padahal mungkin bisa aja Fatimeh atau siapa gitu..hahahaha.
Tentang ‘Like Life’s Easily Ended’, adakah diantara kalian yang pernah berurusan dengan orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri? Atau tema ini sengaja kalian ambil begitu saja agar lagu kalian terdengar berat?
Kebetulan Hariz, vokalis kita memang calon psikolog, dan di saat kita lagi bikin-bikin (lagu) dia dicurhatin orang yang pernah mau coba bunuh diri, hingga akhirnya dia nulis lirik Like Life’s ini. Dan penyebab bunuh dirinya itu adalah karena banyaknya tekanan di hidup yang awal mulanya adalah menerima kekerasan di masa kecil sehingga dia tumbuh jadi pribadi yang murung dan rentan dalam menghadapi tekanan. Sebetulnya ini gak berat sih, hahahaha..karena memang inilah fenomena yang benar-benar terjadi di Indonesia. Tiap hari di media massa, ada aja berita orang bunuh diri, dan kita lagi tertarik dengan fenomena itu. Bisa dibilang juga ini merupakan satu perspektif kita tentang hal ini.
Dengan lirik yang agak depresif, buat saya ‘Like Life’s Easily Ended’ seolah dibiarkan berakhir dengan menggantung. Kesimpulan akhir apa yang kalian harap akan diambil oleh para pendengar begitu mereka selesai mendengarkan lagu ini?
Lirik Like Life’s Easily Ended Sendiri sebetulnya cuma merupakan satu konklusi dari tekanan-tekanan yang katakanlah sering dialami orang dalam hidup. Di bait kedua dicantumkan denial yang sering dilakukan orang ketika menghadapi masalah, yang justru kadang bikin masalah itu jadi terpendam dan menekan dan bikin kita lupa bahwa hidup itu sbetulnya indah. Kita malah bilang “Lebih baik gue mati aja kalo gini caranya”.
Sebetulnya yang ingin kita sampaikan hanyalah sebuah refleksi dari apa yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari, dan masalah kesimpulan kita serahkan kepada para pendengar masing-masing. Dalam kata lain, kita juga mencoba menyampaikan lakukanlah apapun yang menurut kalian yang terbaik dan membuat kalian bahagia walaupun hal itu terlihat negatif, salah, atau semacamnya. selama hal itu benar-benar hal yang kalian inginkan dan membuat kalian bahagia maka hal itu menjadi benar, dan hidup tetap indah sebagaimana mestinya!
Dari sekian banyak orang yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri, buat kalian siapa yang paling keren diantara mereka? Pernah terbersit pikiran untuk melakukan hal yang sama?
Hahaha, kalo ditanya keren atau enggaknya mah gak tau, soalnya alesan orang kan beda-beda, asal jangan karena patah hati aja, hahaha. Tapi yang paling keren itu harakiri soalnya mereka bunuh diri demi menjaga kehormatan dan hal itu banyak mengajarkan sesuatu ke kita, salah satunya adalah pentingnya menjaga sebuah kehormatan bagi umat manusia. Tapi jangan ditiru juga sih, hahahaha. Selesaikan masalah sebisa mungkin, dan yakin semua pasti ada jalan keluarnya. Life is beautiful brothers and sisters!
Bagimana ceritanya hingga muncul instrumen cello dalam formasi band kalian? Apakah memang sudah direncanakan saat awal band ini berdiri?
Awalnya kasian aja sama pemain cello kita, karena dia galau melulu, jadi aja diajakin gabung, hahaha. Nggak sih, saat pertama mendengarkan suara string cello kami langsung membayangkan suara tangisan pria yang pasti dapat mendukung lagu kita yang miris menjadi semakin miris tapi tetep maskulin, hahaha.
Oia, dalam beberapa kesempatan saya meliat beberapa diantara kalian suka mengenakan aksesoris ala suku Indian. Ada cerita menarik di balik itu?
Berawal dari kecintaan Babam terhadap sejarah dan budaya native american yang banyak mengajarkan banyak hal kepada kita melalui mencintai alam kita seperti hutan, laut, hewan-hewan dan semua hal yang ada di dunia ini selain manusia. Ditambah dari segi fashion pun sangat menarik.
Bisa cerita tentang progres rilisnya album baru kalian? Kira-kira ekspektasi seperti apa yang harus kami berikan terhadap album ini?
Kita ditahap produksi si album, mudah-mudahan bisa cepat kelar, kalo pemesanan mah udah bisa dilakuin, kita udah buka pre-order si albumnya kok . Hmm, kalau ekspektasi mah kita serahkan sepenuhnya kepada kalian, namun yang jelas we’ll hypnotize you! hahahaha.
Nama AFFEN terdengar cukup kencang belakangan ini. Bagaimana kalian melihat band ini dalam, katakanlah, lima hingga sepuluh tahun ke depan?
Kita yakin kita bisa membahagiakan telinga banyak orang dengan musik kita tentu didukung dengan usaha kita dalam meningkatkan kualitas musik kita dan kekompakan kita dalam menjalankannya. Terus mudah-mudahan udah berkeluarga masing-masing biar gak pada galau lagi, dan pindah ke salah satu Kabupaten di Inggris, hahahaha.
Teks: Risyad Tabattala
Foto: A.F.F.E.N’s Facebook Fanpage







No comments yet.