Category Archives: Reviews

Local Album/EP/LP/Single/Compilation Reviews

Clap Your Hands Say Yeah

Clap Your Hands Say Yeah – EP Little Moments

Band indie rock asal America, Clap Your Hands Say Yeah, kembali merilis EP mereka bertajuk Little Moments. Dalam EP Little Moment, mereka menyuguhkan 4 track yang ditulis dan direkam langsung oleh frontman mereka, Alec Ounsworth.  Jika mengikuti perkembangan karya mereka dalam tiga album sebelumnya –Claps Your Hands Say Yeah (2005), Some Loud Thunder (2007), Hysterical (2011)— hampir ketiga albumnya memiliki warna music yang berbeda. Mereka terus mengeksplorasi komposisi musik mereka dengan menyerap berbagai unsur untuk membentuk identitas musik indie rock mereka.

Saat ini CYHSY sedang menyelesaikan tournya di Amerika. CYHSY juga telah menyelesaikan full album mereka yang akan di mixed oleh Dave Fridmann pada bulan September 2013. Rencanya full album mereka ini akan rilis pada Januari 2014.

Screen Shot 2013-07-24 at 7.00.46 PM

Mataharibisu – Amsterdam -2º C

Project musik kamar terbentuk pada tahun 2008 saat Aga Rasyidi mulai mencintai dan bereksperimen nada-nada down tempo melalui software FL Studio miliknya. Kemudian dirinya merekrut Yudhistira Abjani mengisi kekosongan pada bagian gitar. Proses pembentukan Mataharibisu dengan album perdana “Ruang Hampa Menuju Cahaya” (di tahun 2009 bersama Inmyroom Records) terbilang singkat. Sehingga musik mereka sempat diarahkan ke lo-fi/dreampop/shoegazing pada album kedua “Chorion Apolysis” (2011).

Kini, pada single terbarunya Mataharibisu berkolaborasi dengan Bhatara Bharan sebagai pengisi suara, mencoba re-intepretasi puisi karya Syarafina V. Alfiansyah yang menghasilkan sebuah single “Amsterdam -2º C”. Diawali sentuhan electronic minimalist berpadu dengan elemen ambient music, vokal Bhatara yang syahdu masuk diantara ruang kesendirian saat kita sedang merenung akan suatu hal. Sampai pada suara pianika menjemput sebagai tanda akhir dari kontemplasi atas bait-bait puisi yang tersusun. “You locked away our dream of a happy home, and hid it behind your stone wall beneath the dome. Did the weather get you? Was there ever a room for two? Does the truth scare you off? Or is it the good that does? Season may change, but emptiness remains. Spring may arrive, but it won’t be the same.”

Remix

ERK RMX – Melankolia Aghi Narottama

Gue belum pernah denger track original Melankolia dari Efek Rumah Kaca, gue cari-cari di kantor juga ngga ada yang punya, jadi gue ngga bisa ngebandingin versi remix sama versi bandnya.

Remix bikinan Aghi Narottama ini mempunyai pengertian yang sedikit berbeda dengan pengertian umum kita akan kata remix yang biasanya berarti versi dance dari sebuah lagu, namun bagi para pencari versi-versi lain sebuah lagu pasti penerapan sentuhan electronic seperti ini sudah tidak asing lagi, apalagi versi yang sudah didekonstruksi ulang sebagai sebuah intepretasi menyeluruh seorang seniman akan sebuah karya.

Pada track ini treatmentnya terdengar mengarah ke elemen-elemen drama, malah hampir teatrikal, terutama di bagian tengah lagunya; sebuah keputusan yang beresiko besar jika tidak ditangani secara cermat, apalagi bila materi yang ada juga sudah cenderung berwarna sama, seperti vokalnya Cholil Mahmud misalnya.

Dalam kasus ini, sayangnya resiko itu akhirnya terjadi. Yang kita dapatkan dalam versi remix Melankolia adalah parade momen-momen yang overdramatised, karena emosi kita terlalu diarahkan dan dimanjakan oleh bebunyian yang sifatnya menguatkan sesuatu yang sudah jelas, sejelas judul lagunya, yang dalam hal adalah ini karakter vokal Cholil dan melodi yang dinyanyikannya. Teatrikal sih memang, sinematik lah, tapi dalam hal ini jadi kaya sinetron sih jadinya. Andai saja bebunyian dan aransemen melankolis itu sifatnya lebih sebagai realm netral di mana suara Cholil bermain-main didalamnya, mungkin sebagai sebuah warna kuat dalam kanvas milik Aghi Narottama yang bernama RMX ini. Responnya terhadap lagu ini terlalu berlebihan di telinga gue, kebanyakan dibumbuin dan kurang tepat juga, kasarnya seperti dibilangin begini: “Gue bakal nyeritain loe cerita yang sedih nih, dan ini bagian sedihnya, ini part di mana loe harus ngerasa paling sedih”.

Setau gue cuma ada sedikit orang yang bisa seperti itu dan salah satunya bernama Bjork, or well at least produsernya beliau.

933943_10200090147112852_245117010_n

Rankaio

Band metal dari Jambi nih, lumayan clean juga kualitas audio demonya, mungkin rekamannya di studio musik yang biasa dipake untuk rekaman musik pop.

Growlnya kurang lepas tapi mas broh, next time kalo bisa lebih fokus ke rasa atau emosi pas ngegrowlnya daripada fokus ke bunyi vokalnya sendiri. Terutama di track ini nih:

Lagu di atas sepertinya pas juga untuk jadi lagu jawaban kota Jambi untuk lagu Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.-nya C’mon Lennon.

Demo-demo lainnya bisa dicek di sini: