Reviews

LELAGU : TIDAK HANYA SEKEDAR KONSER MUSIK

No Comments 24 May 2013

Seperti biasa, akhir pekan Jogja tak pernah sepi dari berbagai acara seni. Kali ini KANALTIGAPULUH berkerja sama dengan Kedai Kebun Forum mengadakan acara bertajuk LELAGU (17/5). Di acara ini, penonton disuguhkan oleh penampilan band-band ternama asal Yogyakarta yang khusus bermain secara akustik. Tak hanya itu, acara yang diagendakan tiap bulannya ini memberikan unsur seni visual membuat pertujukan tersebut semakin menarik. Para perupa ditantang untuk membuat karyanya secara live yang ditampilkan menggunakan OHP. Perupa yang mengisi edisi pertama ini diantaranya Sandy Yudha, Iwank dan Abrams Gobrams Babardi.

Pukul 19.30 wib sekitar 100 orang telah memadati area Kedai Kebun. Buku tamu pun telah terisi penuh. Akhirnya pada pukul 20.00 wib acara dimulai. Selama 3 jam kedepan acara tersebut dipandu oleh kewie yang merupakan salah satu announcer KANALTIGAPULUH. Tak panjang lebar ia memberikan sambutan selamat datang kepada penonton, The Pools seketika menguasai panggung. Gabungan Intrumen yang dimainkan Erson dkk dengan seni visual 2D yang ditampilkan seketika membius para penonton.

Tak lama setelah The Pools turun panggung, kini saatnya giliran Tjoei Lan Tseng. Sesosok Onyen Ho yang membawa kursi merahnya mucul. Kursi tersebut merupakan properti yang ia bawa sendiri. Tak lama kemudian Wok The Rock muncul dengan menggunakan kacamata robot berwarna merah dan radio berwarna kuning. Dalam performnya mereka berdua menggabungkan gitar akustik, synthesizer yang dimainkan di smartphone dan suara radio. Judul serta lirik yang digunakanpun cukup menarik. Gabungan syair-syair menggunakan bahasa Madura yang sebagian besar dari penonton tidak mengetahui arti dari lirik tersebut. Aksi Tjoei Lan Tseng membuat penonton terhibur dan tertawa karna kekonyolan mereka.

Kini saatnya Zoo sebagai band penutup yang akan menguasai panggung. Ini merupakan kali kedua mereka menyusun format akustik setelah sebelumnya mereka bermain di acara KANAL GEMBIRA LOKAL. Walaupun demikian, Rully cs tak kehilangan taringnya memainkan musik ekperimental rock mereka. Dalam show mereka kali ini tentu saja berbeda karena digabungkan dengan unsur seni visual. Seni visual kali ini bertemakan hewan-hewan yang melambangkan wajah dari personil Zoo itu sendiri. Selain itu, mereka juga mengenakan topeng yang berbentuk hewan. Setelah memainkan beberapa lagu akhirnya aksi mereka ditutup dengan kolaborasi bersama Erson dan Wok The Rock yang bermain secara improvisasi. Penontonpun semakin terpukau.

Dalam LELAGU edisi perdana kali ini, antusiasme penontonpun cukup besar sehingga diputuskan untuk mengagendakan LELAGU edisi kedua yang tentunya menampilkan band serta perupa dengan  tema yang lebih menarik.

Text: Agung Hutama

Photos: Denantyo Bagus Wiryawan, Nadzarudin

Reviews

Album Review: Answer Sheet – Chapter 1: Istas Promenade

No Comments 13 May 2013

Adalah menarik ketika sekelompok anak muda mau mengeksplorasi musik dengan menggunakan ukulele, disela sejauh ini kebanyakan anak muda di Indonesia membentuk grup musik dengan melihat sesuatu yang populer disekeliling mereka.  Answer Sheet,  grup musik ukulele dari Yogyakarta ini akhirnya merilis debut album mereka yang bertajuk  Chapter I: Istas Promenade.

Album “Chapter I : Istas Promenade” berisi 10 track dengan durasi 42 menit, berbentuk fisik yaitu CD, dirilis dan distribusikan oleh label kolektif asal Yogyakarta, Paperplane Recording dan label asal Jakarta, Senjahari Records.

Packaging dan layout yang sederhana dari album ini sedikit banyak menggambarkan kesederhanaan dari musik yang mereka tawarkan, dari semua track yang ada juga ditulis menggunakan bahasa Inggris, entah kenapa.  But doesnt matter, because that music speaks for itself even if you don’t speak the language.

10 track di album ini menceritakan tentang sosok imaginatif bernama Istas, mulai tentang kelahiran sosok Istas yang digambarkan di track pertama hingga saat kepergian nya di track paling akhir. Album imaginatif dan sosok imaginatif bernama Istas ini cukup layak untuk kalian dengarkan, dan mungkin akan bisa memberikan jawaban di lembar jawab mu yang belum terisi.

Reviews

Album Review – Detourn

2 Comments 19 April 2013

Barisan riff repetitif pencuci otak, refrain melengking pemantik koor massal, hingga balada picisan pengiris hati, adalah tiga hal yang sebenarnya bisa dengan mudah kita temukan pada rilisan-rilisan The SIGIT yang terdahulu. Sekilas memang seperti tak ada hal baru yang ditawarkan oleh Detourn. Untungnya, empat pemuda dalam tubuh The SIGIT tahu persis bahwa tujuh tahun – terhitung sejak tahun dirilisnya Visible Idea of Perfection – adalah durasi waktu yang terlalu lama untuk dihabiskan demi sebuah album yang sia-sia. Dan memang, di balik formula yang sebenarnya tidak jauh berbeda, Detourn tetap saja menyimpan sejumlah kejutan pada momen-momen yang tak terduga.

Langsung tancap gas sejak awal, Detourn dibuka dengan “Detourne” yang meminjam nuansa agung nan angker ala gereja setan lewat sempalan bunyi (sepertinya, sih) organ di bagian awal lagu ini. Munculnya tiupan saxophone pada pertengahan lagu, adalah kejutan menyenangkan yang seketika menyeret lagu ini, dari yang awalnya garang, ke dalam wujud yang lebih sensual. Lagu kedua, “Let The Right One In” terdengar bagai serpihan materi sisa dari era Visible Idea of Perfection. Singkat kata: The SIGIT rasa lama. Dipilihnya lagu ini sebagai single perdana, sepertinya memang sengaja diset sebagai jembatan sebum jidat fans mengkerut saat mendengar sajian eksplorasi yang terbentang di lagu-lagu berikutnya.

Jika Visible Idea of Perfection punya “Nowhere End” atau “All The Time” sebagai tempat rehat sekaligus penggelitik sisi melankolis anda, maka Detourn punya “Owl and Wolf” dan “Ring of Fire”. “Owl and Wolf” – meski durasinya terasa terlalu panjang hingga agak membosankan – adalah tipikal lagu syahdu yang bisa membuat para manusia tanpa pasangan gigit jari. Sedangkan “Ring of Fire” seolah seperti ekstraksi dari hasil perenungan melelahkan tentang nasib sial negeri yang sepertinya tak henti dihujam bencana ini.

Sementara itu, “Tired Eyes” dan “Conundrum” adalah dua yang akan saya ajukan jika ada yang bertanya tentang lagu mana yang paling mencuri perhatian saya. Dimulai dengan vokal Rekti dalam format backmasked, “Tired Eyes” punya refrain yang cocok digunakan untuk berjoget ditengah lautan manusia yang tengah berheadbang. Dua menit terakhir saat “Tired Eyes” dibabat habis dari tengah hingga akhir, adalah dua menit terbaik yang bisa anda dapatkan dari album ini. Jika telinga anda butuh ejakulasi, saran saya, lakukan di dua menit ini.

Sedangkan “Conundrum”, adalah bayaran lunas jika sepuluh lagu sebelumnya belum juga mampu memenuhi birahi musikal anda. Seolah datang dari beberapa bagian lagu berbeda lalu dirangkai menjadi sebuah lagu yang sama sekali baru, sulit untuk tidak menyebut “Conundrum” sebagai nomor paling segar sekaligus yang terbaik di album ini. Kecuali jika anda memang tak punya hati, nyaris mustahil untuk tidak terenyuh saat Rekti meratap, “How could you say you paid attention..Yet keeping same mistake..”

Sadis.

Jika komposisi musik yang catchy nan gurih di telinga serta eksplorasi musikal yang liar adalah dua kutub yang saling bermusuhan, maka Detourn adalah bentuk kompromi yang berdiri tepat diantara keduanya. Sebuah keputusan yang meski sangat bijaksana, namun juga berpotensi menimbulkan rasa kecewa bagi sebagian fans yang berharap band idola mereka itu punya kejelasan lebih dalam mengambil posisi.

Tapi toh, pada akhirnya memang tak ada gading yang tak retak. Bahkan untuk gading yang bersepuh emas sekalipun. Detourn, adalah gading bersepuh emas yang saya maksud.

Risyad Tabattala

Reviews

Review : Studiorama #4

No Comments 09 April 2013

Sempat vakum terlalu lama dari Studiorama #3, hingga menandakan kembali dengan Studiorama Returnal yang diadakan di [at] Demajors pada Desember 2012. Kini event yang meleburkan antara audio dengan visual ini, memperbaharui konsepnya pada gelaran keempat bertempat di KOI Kemang Art Gallery, Jakarta.

Seperti dilansir dari press-rilis mereka, Studiorama kali ini cukup berbeda dari sebelumnya. Dibagi dua tahap yaitu, Studiorama Sessions yang merupakan kolaborasi antara para musisi dengan seniman visual ternama tanah air, lalu digubah ke proyek video yang bisa kalian lihat di www.studiorama.net . Dan tahap kedua adalah Studiorama Live #4, suatu proses merealisasikan dari tahap pertama secara langsung.

Tepat jam 9 malam, unit indie rock yang dulu bernaung di Brooklyn, New York, yaitu Jirapah membuka penampilan dengan “27” dalam gelap, dibubuhi kelap-kelip standing lamp. Aksi ini merupakan ide kolaboratif antara Jirapah dengan Heru Admadja. Performa Ken Jenie (Vokal/Gitar), Yudhis Tira (Gitar), Nico Gozali (Bass), Mar Galo (Keyboard), dan Januar Kristianto (Drum) cukup optimal menyuguhkan reverb dan delay yang menggeber tanpa henti ke telinga para crowd malam itu. Intro khas dari “Sol”-yang merupakan lagu terakhir-, membuat para panitia mendadak sorak kegirangan dalam balutan aransemen-aransemen musik mereka.

Dilanjut aksi memukau dari Space System berkolaborasi dengan J. Grim (visual), mengajak kita untuk larut dalam cerita musikal yang direpresentasikan lewat instrumen-instrumennya. Di perhelatan mereka sebelumnya, Space System lebih terdengar kental dengan nuansa Jazzy dengan permainan saxophone yang ciamik dari Gerinov Medaimanto. Tapi, entah mengapa di Studiorama kali ini, mereka menghadirkan unsur pop seperti di lagu “Suburban Bird” hasil pemikiran dari Ojon dan Aryo yang berani mengeksplor berbagai macam musik dan instrumen, hingga menjadi salah satu band yang tak memiliki imitasi di Indonesia.

Kracoon selaku musisi yang untuk kedua kalinya menjajal panggung Studiorama, menjadi penampil terakhir dengan konsep gila. Kenapa gila? Coba kalian bayangkan, layar proyektor raksasa menutupi stage, lalu dia (Kracoon) bermain dibelakangnya. Jadi selama beberapa menit kedepan, kita disuguhkan oleh visual kaya akan warna, beraroma Jepang, berbalut musik electronic-minimalist. Dan dari Studiorama keempat ini, dapat saya simpulkan menjadi tiga kata, berdansa (Jirapah), bercerita (Space System), dan surreal (Kracoon).

Reviews

Noise I’m in Love: Ketika Kebisingan Menembus Segalanya

No Comments 05 April 2013

Malam Jumat (28/3) yang cerah dan tenang. Kepulan asap rokok yang membumbung tinggi dibalut dengan senda gurau yang intim dan bersahaja. Wisma Seni Taman Budaya Surakarta masih dalam keadaan yang hangat dan temaram seperti biasanya. Arloji ditangan masih menunjukan pukul 19.25 WIB dan dalam beberapa jam kedepan, suasana seperti ini akan berubah drastis 180 derajat.

Tepat pukul 19.30, “Noise, I’m In Love” dimulai dengan ocehan duo MC Adis dan Nanang. Mereka memulai acara ini dengan kelakar mereka yang renyah dan gimmick yang cukup menggundang gelak tawa. “Noise, I’m In Love” merupakan gigs pertama diawal tahun 2013 di Kota Solo yang diprakasi oleh Dean Street Billy’s berkolaborasi dengan UKM Band ISI Surakarta. Gigs kali ini menampilkan sebuah pertunjukan musik yang sederhana, menembus norma dan dogma musik yang ada. Tak perlu panjang lebar setelah membacakan sponsor malam ini, Psikotropika dipersilahkan mengambil alih acara malam ini.
Sekilas band ini tampak biasa dan normal. Beranggotakan 3 orang dengan peralatan band yang normal. Perlahan drum mulai diketuk membuat ritme untuk kali ini, line bass tipis mengisi kekosongan menjaga nada rendah. Mengalun dengan perlahan dan tenang. Sekilas saya berpikir bahwa ini adalah Blues dengan melodi gitar yang bersih tanpa distorsi. Akan tetapi semua itu adalah tipu daya dan ini adalah “Noise, I’m In Love”. Nanang, gitaris Psikotropika sekaligus MC, mulai memperkosa gitarnya. Mulai dari menyegamakan gitarnya dengan amplifire, dan kemudian menghancurkan konfigurasi efek gitarnya. Raungan gitar dan noise yang dihasilkan efek berhasil mencabik suasana tenang malam itu. Liar dan beringas. Sayang penampilan mereka tidak disaksikan oleh banyak orang, pengunjung mulai berhamburan takala Psikotropika usai mengandaskan ketenangan malam itu. Tampaknya penonton yang baru datang tadi kehilangan salah satu moment terbaik di “Noise, I’m In Love”.

Selanjutnya Morphe Memory melanjutkan dengan kebisingannya. Bermodal dari selongsong bambu yang disambungan dengan pedal efek gitar dan kemudian dikawinkan dengan alat bor, maka lahirnya ambient suara yang tringinas. Melengking menyentuh nada-nada atas, membius menembus gendang telinga. Inilah duo bising yang paling dinanti selain headliner acara kali ini. Konon katanya, projek “Bambu Bising” ini merupakan projek lama yang terhenti beberapa tahun silam. Sebuah tragedi menghempaskan Morphe Memory, namun di “Noise, I’m In Love” projek ini kembali dipertunjukan. Usai Morphe Memory, yang tersisa hanyalah tepuk tangan penonton serta dengungan panjang di dalam tempurung kepala.

Aksi bising kedua grup tadi, dinetralisir oleh Carment yang didaulat menjadi pengisi acara yang ketiga. Masih dengan formasi yang lama, dan tampaknya Carment memang selalu ditunggu oleh jamaah cutting edge Kota Solo. Terbukti penampilan mereka berhasil membuat penonton yang sedari duduk manis sembari bertegur sapa dengan teman-teman merapat ke depan panggung. Penonton dengan hikmat menyanyikan bait demi bait yang dilantunkan oleh Wisnu sang pendoa dibalik mic. Check sound yang kilat serta peralatan yang terbilang minim tak menghalangi untuk menghasilkan sound yang cukup enak didengarkan. Tak salah jikalau band-band di Kota Solo menggangap Carment adalah band yang memiliki sound terbersih dan “terempuk” di telinga. Hanya di saat Carment bermain, beberapa wanita ekspatriat yang hadir di malam itu mengibaskan rambutnya dan berjoget menikmati musik Indie-rock yang disuguhkan. Apakah Carment idola wanita bule masa kini?

Trouble yang cukup lama cukup menghambat penampil keempat untuk unjuk meramu kebisingan yang dia punya. Smith alias Matikau adalah seorang Indonesia asli yang siap mengaduk-aduk suasana malam itu. Tampaknya malam Jumat memanggil dirinya adalah moment yang sangat pas dan mencengangkan. Seketika lampu dimatikan, dan kemudian lantunan narasi layaknya keadaan di alam kubur mulai berkumandang lengkap dengan backsound gemuh kilat yang menggelegar. Jeritan siksa dan isak tangin kepedihan menjadi senjata utama kebisingan Matikau. Efek-efek gitar yang disusun mulai diperkosa untuk menghasilkan bising dan dengungan tajam memekakan telinga. Sebuah jenis pertunjukan yang baru dimana sebuah fenomena alam kubur yang kemudian dirubah menjadi sebuah pertunjukan musik. Bergidik bulu kuduk dikala itu. Matikau sesangar namanya, dan musiknya cukup membuat yang hadir dikala itu ingat dengan akhirat walau sejenak.

Institut Seni Indonesia memang gudangnya para seniman. Jikalau anda tidak cukup gila, maka anda belum sampai pada tahapan seniman. Hal itu yang ditampilkan oleh The Sablenk. Seperti namanya The Sablenk yang berarti gila, ketika pemuda mahasiswa ISI Surakarta pun menunjukan kegilaan mereka dalam mercik musik. Panci masak yang biasanya dipakai untuk menggoreng, kini dikawinkan dengan efek gitar dan dimasukan kedalam amplifire. Akan tetapi kegilaan mereka belum berhenti sampai disana, The Sablenk berhasil menciptakan alat musik mereka sendiri dan diberi nama “Senar Mubeng”. Adis menceritakan bahwa The Sablenk mengusung genre Noise/Contemporer. Nada-nada suling yang dimainkan menjadi nada dasar The Sablenk, dan Bebunyian sedari panci dan Senar Mubeng menjadi pelengkap noise alunana mereka. Perlahan mereka bermain dengan alunan yang lambat dan seketika menukik dengan alunan yang cepat, notasi itu terjadi berulang kali. Standing Ovation dan riuh penonton menyambut kesudahan aksi gila The Sablenk.

Seniman lokal dalam negeri usai sudah unjuk gigi, kini giliran musisi luar yang pamer keberisikan mereka. Matt Shoemaker, ekspatriat asal USA, dipersilahkan untuk menunjukan kemampuannya. Waktu yang cukup lama diperlukan untuk mengeset alat. Sekitar 10 menit lebih Matt berkutak atik dengan alat-alat bikininannya sendiri. Dia menggunakan tangga, gelang spiral, radio bekas, efek gitar, serta beberapa sensor cahaya untuk menghasilkan alunan musik jiwanya. Menurut selentingan bisik yang terdengar, Matt menghasilkan suara dari gelombang rambat yang dihasilkan oleh gelang spiralnya yang kemudian diolah. Lagi-lagi bebunyian nada tinggi merusak suasana tenang malam itu. Beberapa orang yang hadir dikala itu tertegun dengan seksama menyaksikan penampilan Matt yang ekspesif. Beberapa kali Matt menunjukan guratan wajah yang serius dengan guratan didahinya. Tampak Matt menikmati suara-suara yang melenting yang masuk ke dalam telinganya. Keyakinan itulah yang Matt tunjukan terhadap musikalitas yang dimilikinya. Semua terhenyak, memejamkan mata dan seolah menikmati apa yang disajikan Matt.

Pukul 22.00 WIB, dan puncak acara sudah akan dimulai. Nikola Mounoud, noise artis asal Swiss, bersiap pamer musikalitasnya. Dia penampil paling sederhana dengan laptop dan mixer 4 channelnya. Mixer ini langsung dicolok ke 4 sound system yang tersedia malam itu. Meski gear yang digunakannya terhitung minim dan sederhana, namun tenaga yang dihasilkan tidak seminim apa yang dia gunakan. Terbukti sound yang dihasilkan sangat bertenaga dan terasa lebih berat ketibang para penampil sebelumnya. Dia menggunakan feed-back yang ada pada sound system dan kemudian diolah melalui software hasil rancangannya sendiri. Nikola membuat sebuah software untuk mengolah feed-back selama lima tahun dan diberi nama MSP. Penampilan Nikola sangat mengundang rasa penasaran penonton untuk mendekati dan melihat bagaimana dia mengolah semua feed-back yang ada. Decak kagum serta teriakan kegilaan penonton membuat Nikola semakin bersemangat dan kian panas untuk mengutak atik softwarenya. 30 menit sudah kebisisngan memenuhi malam dan mendadak Nikola menutup laptopnya sembari membalikan meja yang ada dihadapannya. Sebuah laptop, mixer, dan smartphone bergeletakan dilantai seketika. Nikola ambruk sembari berkata “Enough, I’m drink to high”. Tampaknya Nikola benar-benar menikmati penampilannya di Kota Solo dan tendensi minuman khas Kota Solo mengantarkan orgasme musikalitasnya. “Noise, I’m In Love” usai dan semua kembali tenang seketika.

“Noise, I’m In Love” bisa dibilang bukan gigs yang lazim seperti biasanya. Kali ini “Noise, I’m In Love” menyuguhkan musikalitas yang bener-bener menembus batas-batas norma dan kaidah dalam bermusik. Hampir bisa dibilang 7 tangga nada yang menjadi pakem bermusik selama ini tidak digunakan. Selama semua itu bisa menghasilkan bebunyian maka lanjutkan terus musikmu. Tiada pakem dalam musik ini, semua hanyut dalam dunia individu. Mengutip perkataan nanang “musik noise itu adalah dikala kamu tidak bisa bermain alat musik tapi kamu ingin bermusik, maka itu adalah musik noise”.
Selain menembus kaedah bermusik, acara “Noise, I’m In Love” pun menembus antar bangsa. Terbukti baik orang lokal maupun warga negara asing yang hadir dikala itu membaur dan bercengkrama satu dengan lainnya. Tiada sekat kecanggungan miss communication terjadi diantara mereka. Mereka semua berbicara atas bahasa yang sama dan atas intuisi tertajam mereka semua, musik! Gelak tawa, sorak gembira, teriakan kesenangan, sampai obrolan renyak tersaji malam itu, di Malam Jumat yang dingin namun cerah. Semua orang bersuka cita, menyambut keriaan malam itu. Bagi banyak orang kebisingan adalah pengganggu yang menyebalkan, namun lain hal bagi segelintir orang dengan kebisingan mereka bersatu dan bersuka cita bersama. Kebisingan Menembus Segalanya!

Text : Ekawan Raharja

Reviews

Album Review: Sri Plecit – Boon Safari

No Comments 04 April 2013

 

Musik ska yang dulu nya sangat populer di Indonesia di era 2000 an ternyata saat ini belum mati. Belum lama ini band ska dari Yogyakarta, merilis album yang berjudul Boon Safari. Nama album yang terdengar aneh, yang sebenarnya memiliki makna perjalanan yang membawa berkah.  Meskipun awalnya mereka lebih dikenal sebagai band ska, tapi setelah mendengarkan satu persatu track yang ada di album ini, saya mengambil kesimpulan mereka mencoba mengeksplorasi lebih banyak jenis musik, terbukti dengan sangat beragam nya jenis musik yang mereka mainkan di 11 track album ini, setiap track nya membawakan jenis musik yang berbeda, seperti jazz, swing, ska.

Hal menarik lain adalah dari packaging album nya, meskipun tidak menggunakan CD manufacture, namun di dalam packaging dari album ini terdapat pop-up yang berbentuk para personel mereka dengan settingan sedang berada di komedi putar dan semua halaman nya adalah full colour.

Dari segi lirik dan musikalitas, album ini sangatlah ringan. Mengangkat cerita sehari-hari dari masing-masing personelnya dan untuk kalian yang sedang bersedih sangat recomended untuk mendengarkan album ini. Versi digital dari album ini juga bisa diunduh secara bebas dan gratis, dan dalam launching albumnya mereka juga mengratiskan tiket masuk dalam  bentuk invitation. Alhasil sekitar 3000 orang sempat membuat gerah  gedung Purnabudaya Yogyakarta pada saat itu.

Apakah sudah siap melakukan perjalanan dan safari ria bersama teman-teman mu? Album ini cocok untuk menemani dalam berkendara dan mengisi keriaan disaat waktu refreshing kalian.

Komang Adhyatma

News, Reviews

Review: The 3rd Music Gallery “Time Machine”

No Comments 04 April 2013

Pagelaran musik terbesar yang diadakan oleh BSO Band FEUI sudah memasuki episode ketiga. Untuk tahun ini, mereka mengangkat tema “Time Machine” yang menghadirkan musisi yang mengandung unsur-unsur musik tahun 70’an hingga sekarang. 3rd Music Gallery dibagi Jansport dan Demajors stage.

Demajors Stage diisi dengan line up berisikan Tristan, Adrian Adioetomo, Matajiwa, Kuno Kini, dan Vox. Sedangkan panggung yang lebih besar (Jansport Stage) menghadirkan band yang kebanyakan berkolaborasi dengan musisi-musisi inspirasional. The Exeperience Brothers feat Iga Massardi (Soulvibe) meng-cover “Iron Man” (Black Sabbath), “Smell Like Teen Spirit” (Nirvana), “Seven Nation Army” (The White Stripes). Dan untuk kedua kalinya, di event ini mengundang The Adams, diakhiri oleh penampilan Cholil Mahmmud (Efek Rumah Kaca) membawakan “Konservatif”. Irama bossanova keroncong yang disuguhkan oleh Payung Teduh, ikut membawa Ade Paloh (Sore) menyanyikan “Senja”. Penampilan memukau juga diturunkan oleh unit indie ibukota, Rumahsakit, dan mungkin hanya mereka yang melakukan encore dengan lagu “Hilang”. Efek Rumah Kaca yang bermutasi menjadi Pandai Besi, mengakhiri penampilan dengan membangun atmosfir sendu di sekitar Annex Building bersama tembang-tembang lamanya, yang di daur ulang dan kaya akan instrumen.

events

Photos from ARTE 2013

No Comments 31 March 2013

Photos by : Agra Suseno

Reviews

Review: Japanese Whispers Vol.2 – Memaksimalkan yang Minimalis

No Comments 25 March 2013

Setelah sukses menggelar Japanese Whispers Vol. 1 yang menghadirkan Texas Pandaa dari Jepang beberapa tahun yang lalu, Common People mengulang keberhasilannya dengan menghelat Japanese Whispers Vol. 2 di LAF Garden pada Sabtu (23/3). Dengan personel panitia yang kurang lebih sepuluh orang saja, event ini terkesan minimalis tapi digarap dengan maksimal. Walau hanya mengundang tiga band saja, nama-nama yang dipanggungkan tidak tanggung-tanggung: Dojihatori, jagoan brit-pop dari Yogyakarta, The Aftermiles, band indie-rock ibukota , dan tentu saja, Mitsume, dari Tokyo Jepang.

Dojihatori menjadi daya tarik tersendiri karena mereka sudah beberapa lama vakum. Event ini menjadi ajang come-back Dojihatori bagi para penggemar yang sudah kangen. The Aftermiles juga menarik karena sudah mendapatkan penghargaan internasional untuk musiknya. Lagipula band ini cukup membuat kita penasaran karena vokalis barunya adalah aktor ternama Ringgo Agus Rahman. Sedangkan Mitsume merupakan band indie-pop Shibuya dengan lagu-lagu yang easy listening dan catchy.

Beruntung malam minggu itu agak terlalu cerah dan gerah, cuaca yang pas untuk bersantai di sebuah taman senyaman LAF Garden bersama teman-teman terbaik, sambil mendengarkan musik pop ceria. Sekitar pukul 19.00 orang-orang mulai berdatangan ke LAF. Terlihat antusiasme para penonton tergolong cukup tinggi, walau malam itu sedang ada banyak acara musik yang digelar di Yogyakarta (misalnya konser tunggal Agnes Monica dan debut konser Sarita Fraya). Terlebih lagi baru dini harinya ada peristiwa penembakan di Lapas Cebongan yang membuat suasana Jogja sedikit menegang. Tetap saja sekitar 250 orang memenuhi LAF Garden malam itu. Bisa dilihat para penonton terdiri dari berbagai kalangan anak muda. Ada wajah-wajah familiar dari berbagai scene musik yang hadir, bahkan di antara para penonton ada pula wajah-wajah mereka yang aktif di komunitas anime. Mungkin tema ‘Jepang’ yang diusung menjadi daya tarik bagi mereka yang notabene bukan dari scene musik.

Sambil menunggu acara dimulai para penonton berfoto di depan backdrop Japanese Whispers Vol. 2 yang memang disediakan sebagai semacam red carpet. Ada juga yang duduk-duduk di pinggir kolam ikan yang telah dihiasi dengan lampion kertas merah dan kuning yang mengapung dan bercahaya temaram. Beberapa yang lain berbelanja di stand memorabilia di utara panggung atau sekedar duduk-duduk di berbagai sudut taman.

Sekitar pukul delapan suara narator yang membacakan sambutan terdengar di seluruh venue. Acara ini memang dirancang tanpa MC, hanya narator tak terlihat yang membacakan editorial band yang akan tampil. Ketika Dojihatori naik panggung, resume mereka dibacakan, dan para penonton berkerumun di depan panggung sambil menyambut mereka dengan tepuk tangan meriah karena sudah tidak sabar melihat Windho, Yuma, Rinto, dkk kembali menampilkan set terbaik mereka. Malam itu mereka menampilkan lagu-lagu hits mereka seperti Lazy Bike, This Soul, Brainwashed, In the Stars, Trouble, Lights Up, 12 Siang, dan Hero For Myself. Penonton paling terlena ketika In the Stars dimainkan. “Look at me and you are in the stars…” gumam para penonton yang sudah hapal dengan line-line lagu hits dari album ‘I Know You, No, Not You’ itu. Selebihnya mereka terdayu-dayu dengan musik Dojihatori yang mau tak mau mengingatkan kita akan Oasis.

Dojihatori menjajah panggung dan penonton selama sekitar setengah jam. Di antara jeda, para penonton duduk-duduk santai di rumput dan di tangga depan panggung. Ketika The Aftermiles tampil, semuanya bersemangat lagi, berdiri dan menonton dengan antusias. Sayangnya The Aftermiles tidak tampil utuh. Ringgo yang ditunggu-tunggu ternyata berhalangan hadir. Bahkan pemain bass dan drummer mereka juga tidak melengkapi formasi band ini. Akhirnya hanya tiga orang anggota The Aftermiles yang tampil malam itu, yaitu Eddie, gitaris yang akhirnya merangkap menjadi vokalis juga, Yoga Pratama yang memainkan lead guitar, dan Maulana yang memainkan keyboard. Posisi drummer dan bass player diisi personel FSTVLST, Danish dan Moved. Menampilkan empat lagu saja, band ini bermain cukup total walaupun belum maksimal. Malam itu mereka memainkan Saint a Fakin’ Sinner, Kids on Riot, Today dan single terbaru mereka What You Say You Want. Berkali-kali Eddie mengungkapkan betapa senangnya mereka bisa manggung di Jogja karena melihat antusiasme penonton dalam menyaksikan penampilan mereka. Bahkan para penonton bisa lumayan ikut sing-a-long di lagu What You Say You Want yang menjadi lagu pamungkas. Seperti liriknya, lagu ini lumayan liberating dan memanaskan penonton yang kemudian bersiap menyaksikan Mitsume.

Ketika Mitsume naik ke atas panggung, semua penonton terutama yang perempuan, langsung bertepuk tangan dan berteriak-teriak. Para penonton terus-terusan memanggil-manggil nama Sanshiro dan Yojiro, pemain bass dan pemain drum mereka. Sebelum mulai memainkan setnya, Moto, sang pemain gitar dan vokalis, mengeluarkan kertas kecil yang ternyata contekan kata-kata berbahasa Indonesia yang berguna untuk menyambut para penonton. Kata-kata pertama: “Terimakasi… sugengu darru..” maksudnya “Terimakasih… sugeng dalu….”untuk mengucapkan terimakasih dan selamat malam kepada para penonton. Kalimat lanjutannya, “Karian ruar biasa…. Kami suka mie goreng… Kami semua masi jombro…” (Kalian luar biasa. Kami suka mie goreng. Kami semua masih jomblo) disambut histeris oleh para penonton perempuan. Belum habis teriakan-teriakan yang menyambut mereka, Mitsume mulai memainkan single mereka, Cider Cider. Mereka melanjutkan dengan memainkan lima lagu lainnya, Disco, Entotsu, Utsurou, Towers, 20 dan sebuah lagu baru yang belum mereka beri judul. Setiap kali lagu berakhir, Moto mengakhirinya dengan ucapan “Terima kasii” yang membuat penonton makin heboh bertepuk tangan. Semua lagu disambut dengan meriah, walau pun sepertinya tidak ada di antara penonton yang bisa ikut sing-a-long dengan liriknya yang berbahasa Jepang.

Setelah keenam lagu tersebut digeber habis, mereka turun panggung. Tapi para penonton sepertinya belum puas dan akhirnya bersama-sama berteriak kencang meminta encore. Akhirnya Moto, Mao, Yojiro, dan Sanshiro kembali naik ke atas panggung . Moto kembali membacakan kata-kata terimakasihnya, “Terimakasi kerena suda meminta encore. Karrian ruar biasa!” sebelum akhirnya menutup pertunjukan dengan dua lagu encore, Sankaku dan Kurage. Bisa dibilang dua lagu encore ini malah menjadi klimaks pertunjukkan. Mereka bermain total, berloncatan di atas panggung, dan puncaknya Sanshiro si pemain bass memanjat bass drum, dan memainkan bassnya dengan heboh ditimpali Yojiro yang seperti kesetanan menggebuk drumnya.

Setelah pertunjukan benar-benar berakhir, mereka turun panggung dan segera diserbu para fotografer dan penggemar yang minta foto bareng dan tanda tangan di CD album Mitsume. Baru setelah sekitar satu jam kerumunan penggemar menipis dan keempat laki-laki Jepang itu akhirnya bisa beristirahat. Para penonton pun pulang dengan membawa kegembiraan setelah menonton tiga band yang tampil maksimal.

Tidak hanya para hadirin yang terpuaskan, ternyata ada teman-teman di Jepang yang mengikuti event ini secara streaming lewat kanaltigapuluh.info. Salah satunya adalah pengguna akun twitter @raratiger yang berkicau “@Arprahran @KANALTIGAPULUH thanks to streaming, I enjoyed mitsume’s live in spite of staying in Japen. Terima kasi!” (Kepada Arkham dan KANALTIGAPULUH, terimakasih telah menyiarkan acara secara streaming. Saya dapat menikmati pertunjukan live Mitsume walau saya berada di Jepang. Terimakasih!). Acara ini memang disiarkan secara live streaming oleh radio online KANALTIGAPULUH.

Memang benar-benar event minimalis yang maksimal, dengan jangkauan kegembiraan yang jauh melampaui ruang.

Text by: Gisela Swara Gita

Photos by: Komang Adhyatma

News, Reviews

Review : Bloc Party Concert 2013

1 Comment 22 March 2013

20/03/13 Tak usah heran jika melihat pengunjung yang sengaja (atau yang merencanakan jauh-jauh hari) untuk menyaksikan penampilan dari Bloc Party, banyak yang terlihat kuyup karena hujan memang telah mengguyur di seluruh Jakarta sejak sore hari kemarin. Saya pun lari terburu-buru di pelataran Tennis Indoor, Senayan, karena telat (akibat macet dan hujan) untuk melihat penampilan The Adams yang ditunjuk sebagai band pembuka. Mungkin sudah lebih dari 3 lagu yang dimainkan sebelum saya tiba. Antusias saya memang telah lama terbendung sejak band Power Pop ibukota ini mengabarkan akan kembali menjajal panggung hiburan setelah hampir setahun vakum. Mereka juga berjanji akan memainkan lagu-lagu yang jarang dibawakan lewat akun twitter resminya pada malam ini.

Memasuki venue Tennis Indoor, saya langsung disambut dengan “Pijakkan” lalu digeber langsung dengan lagu romantik setaraf “Hanya Kau”. Celoteh khas a la Saleh Husein (Vokal/Gitar) juga sukses mengajak para penonton melakukan koor massal saat “Berwisata” dikumandangkan. Diantara mereka semua, mata saya tertuju kepada Ario Hendrawan (vokal/gitar) yang terlihat menua dengan rambut uban yang hampir mendominasi di kepalanya. “Konservatif” dilayangkan tepat jam sembilan malam, entah sengaja atau tidak, jam yang dibawakan sesuai dengan liriknya Siang, lambat laun telah menjadi malam//dan ini sudah gelas ketiga//jam sembilan malam aku pulang”. Tapi, mereka tetap lanjut dengan “Halo Beni” sebuah lagu yang dedikasikan untuk mantan personilnya, Beni Adhiantoro, sekaligus performa terakhir dari the Adams.

Sinkronisasi permainan lampu tembak dengan backsound seperti film-film science-fiction, menghantarkan satu persatu personil Bloc Party keluar sambil melambaikan tangan kepada para audiens. Bertuliskan “Support Your Local Artist” di kaosnya, Kele Okereke menyapa penonton dengan penuh senyum khas. Ngebut dari “So He Begin To Lie” menuju track kedua “Trojan Horse”, Matt Tong yang hanya menggunakan celana jeans pendek itu menggebuk drum penuh enerjik yang membuat meriah seluruh Tennis Indoor. “Positive Tension” yang merupakan track nomor ketiga dari Silent Alarm juga dibawakan seusai “Hunting for Witches”. Terlihat kesengajaan dari pengaturan setlist yang diramu sebaik mungkin, mencampurkan lagu-lagu yang terdapat dalam album Silent Alarm hingga Four supaya tidak kelihatan berat sebelah. Riuh ramai terdengar saat intro lagu jawara seperti “Banquet” dibawakan di tengah-tengah pertunjukan berlangsung hingga “Coliseum”. Saat mengumandangkan “Day Four”, tata lampu nan spektakuler memantul ke wajah tanpa ampun. Sehabis itu Kele mengajak para crowd bersahutan menyanyikan “Give me one more chance” pada single yang telah banyak di remix banyak DJ internasional bertajuk “One More Chance”. “We’re Not Good People” (yang merupakan lagu favorit saya pada album Four) menjadi lagu terakhir pada babak pertama.

“Hallo, round two begin”, Kele pun menyapa dan siap melanjutkan pertunjukan di putaran kedua ini. Dimulai dengan alunan melodi “Kreuzberg” hingga memasuki bait, siap meneteskan air mata selama 5 menit kedepan. “Ares” dipilih menjadi perwakilan dari album Intimacy, riff yang kompleks dari Russell Lissack (Lead Guitar) yang dipadu padankan bersama Matt Tong (Drum). Mereka berdua memang harus diberi ancungan jempol atas kinerjanya yang lebih menonjol dibandingkan Gordon Moakes (Bass) yang terlihat kaku dan kikuk selama konser berlangsung. Mereka juga mengcover reff “We Found Love” dari Rihanna, sebagai pembuka lagu “Flux” dan menandakan juga babak kedua telah usai. Solo drum lagu “Sunday” mengawali ronde ketiga kali ini. Memang terlihat aneh, ketika band 2000-an memiliki stamina 70an. Setelah “Like Eating Glass”, keluarlah dua buah balon kubus raksasa, diiringi “Helicopter” sebagai lagu terkahir. Penghormatan terakhir pun dilakukan, menandakan mereka telah usai dan sukses melaksanakan tugas malam ini, serta menepis semua isu-isu tak sedap rencana Kele Okereke untuk hengkang dari Bloc Party.

Photo’s by: Robby Wahyudi Onggo

DRS Tumblr


  • Club 8s upcoming album “Above the City” to be released May 21st.

    Pre-order album on Amazon: www.smarturl.it/abovethecity
    Pre-order album on Itunes:smarturl.it/club8-above-itunes
    Pre-order from the Labrador shop: www.labrador.se/index148.html

    Contact: info@labrador.se


    05/14/13

  • How the responses of the metalheads on the biggest metal music festival Djarum Super Hammersonic 2013? Lets, visit this link http://youtu.be/6w3AOOM4vPw

    05/07/13

  • photo from Tumblr

    Harlan Boer di #acreate


    05/04/13

Facebook Fans

Recent Downloads

Downloads Page

© 2013 Deathrockstar.info. Powered by MemePix.

Daily Edition Theme by WooThemes - Premium WordPress Themes