Category Archives: Featured

Review Single: Bangkutaman – Langkah Baru

Sempat terkejut saat band asal Jogjakarta ini mempublikasikan single teranyarnya bertajuk “Langkah Baru” yang dapat diunduh secara gratis disini. Toh, sehabis sang gitaris (Justinus Irwin) merilis single sebagai kado natal, ternyata Bangkutaman juga mengeluarkan karya terbarunya pada awal tahun.

Wahyu Acum menyanyikan lirik-lirik positif mengenai seperti sinar matahari serta kicauan burung yang bernyanyi merdu mengiringi kita untuk beraktivitas. Diaransemen dengan instrumen-instrumen Folk Rock, lengkap dengan hembusan harmonika yang menambah kesyahduan lagu ini. Kami menjadi lebih optimis menghadapi tahun 2013 dan gagah berani mengarungi ganasnya jalanan ibukota yang tiada akhir. Bagaimana dengan kamu?

Review Single: Sunday Carousel – Midnight Sky

Akhir tahun kemarin, seorang kerabat memberikan sebuah single yang menamai band mereka Sunday Carousel. Setelah ditelusuri, ternyata salah satu personil mereka pelopor skena musik chiptune Indonesia bernama Diru (Bit The Medusa).

Ekspetasi akan single bertajuk “Midnight Sky” ini memang terlalu jauh atas pemikiran kami sebelumnya. Secara musikalitas Bit The Medusa tipikal grup elektronik dengan tempo yang up-beat, bertolak belakang dengan Sunday Carousel yang lebih menghadirkan nuansa syahdu dengan nada-nada lebih cozy. Ketika 2 menit lewat, kalian langsung merindukan nikmatnya aktivitas liburan di pantai, sambil melihat langit malam lalu berada diatas kap mobil, serta ditemani pasangan kalian. Tapi cerita romantika itu lebur saat menoleh dari segi lirik yang dituliskan “Do you know that I’ve fallen hard. It’s hard enough to keep a man’s alive. Faces come, faces go. But I know you’ll always stay around”. Sangat direkomendasikan buat kalian penggemar musik elektronik down-tempo dengan balutan vokal perempuan.

DRS Special Interview: Thunder Sanchez

Beberapa waktu yang lalu, trio fuzz rock muda asal Bandung ini meluangkan sedikit waktunya untuk berbagi bising dan bercerita tentang kota tempat mereka tinggal, mengapa memilih Kurt Cobain ketimbang Layne Staley, hingga nikmatnya disengat listrik sekian menit di atas panggung. Berikut petikannya.

oleh: Risyad Tabattala

Pertanyaan yang mungkin paling basi buat kalian bertiga, apa alasan kalian memilih Thunder Sanchez sebagai nama band? Makna khusus?

Ya sebenernya sih ga sengaja kepikiran gitu aja, tapi waktu dipikir-pikir, akhirnya kita bikin satu filosofis sendiri. Thunder artinya petir yang dalam mitologi yunani adalah kekuatan dari dewa zeus (dewa tertinggi di yunani sana) yang kita gambarin sebagai kekuatan terkuat, terus Sanchez kita ambil dari nama-nama orang Amerika latin dimana disana banyak perlawanan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan tirani (cieee). Akhirnya kita simpulin Thunder Sanchez berarti kekuatan untuk melawan.

Bagaimana tentang awal mula terbentuknya band ini? Apa yang membuat kalian bertiga merasa saling cocok hingga akhirnya membuat sebuah band?

Awalnya sih band ini dibentuk berdua, Dzikri (Oi) di gitar sama Sandy di drum. Seiring waktu, kita mutusin buat nambah bassist buat lebih ngisi nuansa di band ini, akhirnya ketemu arsa yang notabennya bekas bassist sandy di bandnya yang dulu. Ya setelah kita ngabisin waktu buat ngejam dan maen bareng ya ternyata chemistry-nya dapet dan akhirnya kita mutusin buat ngelanjutin dengan formasi ini sampe sekarang.

Bisa tolong beri kami tiga kata yang mendeskripsikan musik kalian?

AWAS TEGANGAN TINGGI!!!

Menyebut diri sebagai jemaah fuzz rock, siapa musisi yang paling berpengaruh terhadap musik yang kalian buat?

Hm sebenernya sih kita punya influence yang beda-beda, kayak Oi lebih dengerin musik semacam Mudhoney dan Fu Manchu, sandy suka sama band semacam The Mars Volta sama Death From Above 1979, terus Arsa yang demen banget sama Foo Fighters dan Hangnail (UK).

Ya kita juga ga terlalu berpatok sama genre musik fuzz rock cuman karena kita kebetulan semua suka sama suara fuzz sama muff kita akhirnya mutusin bwt bikin musik fuzz rock hehe.

Saya telah mendengar keberadaan Thunder Sanchez sejak beberapa tahun yang lalu. Selain dirilisnya “I Start Fires”, apa yang sedang kalian rencanakan dalam waktu dekat?

kita bakalan ngerilis album split barengan Bob’s Wilder (salah satu band rock dari bandung) dengan format kaset dalam waktu dekat. Selanjutnya Kita juga lagi beresin materi buat e.p. pertama kita, ya sukur2 bisa kelar sampe jadi full album. Amin!

Di luar “I Start Fires” yang (sepertinya) bercerita tentang kaum pengidap insomnia, apa yang ingin kalian ceritakan lewat lagu-lagu Thunder Sanchez yang lain?

Sebenernya tema-tema lirik yang kita angkat ga jauh dari keseharian, dimulai dari kejenuhan akan rutinitas, status sosial yang selalu dipertanyakan sampe gaya bercinta yang diatur agar lebih bermoral. Oh ya Kita juga suka sama cerita-cerita tentang UFO, big foot, annunaki dan cryptozoology lainnya yang jadi inspirasi di beberapa lirik di lagu kita (hehe)

Sebagai sebuah band yang tumbuh di kota Bandung, sejauh mana kota ini mempengaruhi aktivitas bermusik kalian? Seperti apa scene Bandung hari ini?

Kota Bandung sangat mempengaruhi kita sih terutama di scene musiknya yang ngemotivasi kita buat bikin musik dan terus berkarya. Dinamika sosial di kota bandung juga jadi inspirasi dalam penulisan dan pembuatan musik kita, kaya kondisi macetnya kota ini dari hari ke hari, semakin panasnya kondisi kota, penumpukan sampah, dll.

Scene musik bandung sekarang ini makin berkembang bisa diliat dengan banyaknya band dengan berbagai genre baru. Bandung sampe sekarang masih jadi salah satu barometer musik di Indonesia yang secara ga langsung menggambarkan masih dan makin banyaknya band berkualitas dari scene music di kota ini.

Apa pengalaman tergila di atas panggung yang pernah kalian rasakan selama ini?

Oi & Arsa : Kesetrum pas maen di salah satu gigs gara-gara panggung basah. Kurang lebih 25 menit lah kita harus nahan kondisi kaya gitu.

Sandy : Hampir ketimpa papan reklame pas lagi maen di tengah-tengah lagu, hahaha.

Layne Staley atau Kurt Cobain?

Ini sih ibaratnya harus milih tuhan dari agama mana yang lebih baik soalnya mereka berdua menginfluence banget buat musik kita pada umumnya. Tapi kalo disuruh pilih salah satu mungkin Cobain. Soalnya secara ga sadar emang kita terpengaruh banget sama orang yang satu ini khususnya dari pembuatan musik sampe attitude masing-masing personil.

Akan seperti apa wujud Thunder Sanchez dalam, katakanlah, lima hingga sepuluh tahun ke depan? Pencapaian apa yang ingin kalian dapatkan?

Pengen tur sejauh mungkin, bikin album dengan musik yang musik yang berkualitas, hidup senang dan bahagia, ya semoga aja semua itu bisa kecapai buat 5 sampai 10 tahun kedepan. Sukur-sukur kurang dari segitu. Selebihnya ya, surprise lah….haha!
______________________

Thunder Sanchez: @thunder_sanchez

Review Redaksi Akhir Tahun 2012

Seperti para bankir-bankir dan professional muda lainnya di hari-hari terakhir tahun 2012 ini, kami di deathrockstar juga akan melakukan closing akhir tahun. Surat-surat dari para penggemar dan dinas pajak yang sudah tertutup debu akhirnya kami buka juga, termasuk didalamnya album-album dan EP karya musisi lokal produksi tahun ini yang belum sempat kami review, atau kita review ulang disini.

Tanpa banyak kata-kata lagi, berikut adalah review singkat, padat, dan lugas tentang album mereka yang kami temukan tergeletak di atas meja redaksi:

1. Harlan Boer – Sakit Generik

Jarang sekali ada seorang vokalis lokal dengan suara yang berkarakter. Jarang juga ada sebuah album atau EP yang bisa menggambarkan sebuah harapan dalam keputus-asaan. Ditemani sebuah gitar akustik dan seorang penyanyi perempuan, dan kadang sebuah harmonika, trompet atau biola saja, Harlan Boer berhasil membawa kita kedalam sebuah atmosfir tertentu tanpa banyak usaha. Andai saja dia bisa sedikit lebih jujur lagi dari yang sekarang, terutama pada suaranya yang sudah berkarakter, maka albumnya nanti dipastikan akan bisa menyembuhkan banyak orang.

2. Arc Yellow – Mammals

Menarik sekali memperhatikan suara gitar electrik di album ini, track demi track treatmentnya berbeda dan berhasil membedakan antara satu lagu dengan lainnya. Sedikit keras tapi masih bisa dinikmati oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang menyukai sentuhan feedback dari gitar elektrik. Album ini lumayan tidak membosankan untuk sebuah band berbasis senar dan distorsi, kalau saja instrumen-instrumen lainnya, termasuk vokalnya, bisa sedinamis dan sehidup suara gitarnya, maka album ini bisa menjadi sangat adiktif.

3. Sarasvati – Mirror

Campuran antara timur barat terdapat pada album kedua dari biduan asal Bandung ini. Masih bernuansa mistis, theatrical dan dramatis, yang berbeda di album ini adalah tonality dan keseluruhan warna dari lagu-lagunya yang cenderung lebih cerah atau ringan. Kalau di album sebelumnya mungkin Risa sedang tenggelam sendirian (maksudnya manusia satu-satunya) di alam lain, maka pada album ini dia mulai santai, dan membawa beberapa teman manusianya untuk ikut serta. Dengan kata lain, dia mulai bermain-main dengan bunyi dan aransemen, tanpa terlalu fokus dengan kisah yang sedang diceritakan. Sayangnya diantara bunyi-bunyi itu, pada bagian drum dan bass masih terdengar kasar dan tidak terlalu diperhatikan, tidak menyatu dengan sapuan orkestra sinematik yang mayoritas ada disetiap lagu, sifatnya masih sekedar tempelan saja.

4. Darryl Wezy – Maze of Fears

Dari karakter dan tarikan suaranya Darryl Wezy, mungkin kita bakal keinget sama band-band atau penyanyi khas teenage pop Amerika yang biasanya panjang dibagian vowel. Musiknya sendiri adalah campuran antara musik band berbalut overdrive dan orkestra super minim, yang kemungkinan besar adalah masukan dari Aghi Narottama, sang produser. Beberapa petikan surf gitar dari sang produser menyelamatkan album ini dari kedataran khas band pop ceria nan positif dan berwarna warni. Jika anda suka hal-hal yang sangat manis, seperti piknik di taman atau gula berlumuran kecap, anda mungkin bisa menikmati album ini, sebuah gulali yang diramu dengan sangat benar oleh mereka yang ahli dibidangnya.

5. The Upstairs – Katalika

Ditinggal ketiga personil bukan menjadi hal rumit untuk mereka. Malah semakin merubah tata alur musik The Upstairs yang awalnya terdengar kasar dan monoton menjadi rapi dalam jangka waktu tiga tahun saja dari album “Magnet! Magnet!”. Kaya akan suara synth dan semakin up-beat di beberapa lagu, dilumatkan kedalam riff gitar khas dari Andre Idris. Tentunya Jimi Multhazam selaku penggagas lirik hampir disemua lagunya terdengar lebih variatif merampungkan bait demi bait. Bisa kalian bayangkan beberapa nama zat-zat berbahaya bisa menjadi satu lagu bertajuk “Selamat Datang Di Tubuh Kami” yang tentunya semakin membuat kita berdansa resah.

6. Seringai – Taring (Deluxe Edition)

Sepertinya kinerja selama lima tahun terbayar lunas secara kilat, untuk album Taring (Deluxe Edition) yang habis terjual dalam kurun waktu 2 hari. Dikemas secara eksklusif berupa booklet disertai poster A3, sticker, serta cerpen mengenai serigala menguasai dunia pasca-kiamat oleh Soleh Solihun. Materi album ini terlihat fresh dengan menambahkan instrumen-instrumen blues, serta menyisipkan lagu tentang “Boba Fett” dan juga merekam ulang lagu dari Duo Kribo “Discotheque”. Selebihnya, masih bertemakan kemunduran moral bangsa kita, ditambah “Lagu Lama” berkumandang dari pemerintah dengan segala omong kosongnya.

7. ROXX – Jauh Dari Tuhan

Masih konsisten dengan asupan-asupan dari Anthrax dan Metallica, di album “Jauh Dari Tuhan” ROXX mulai bereksperimen dengan lirik-lirik mengenai perjalanan relijiusnya yang mengingatkan saya kepada Master Of Reality milik Black Sabbath. Bermain full atractive bersama skill-skill muktahirnya, menggilas telinga dengan shred gitar yang memanas, hingga saya menobatkan predikat “Bocah Tua Nakal” kepada kelima senior musik serta menjadi tokoh inpirasional semua pelaku musik rock dan metal, atas buah pemikiran mereka sampai saat ini.

8. Rumahsakit – 1+2

“Dipersembahkan untuk kalian yang tidak membiarkan kita hilang…”, begitulah kutipan pesan dari Rumahsakit yang didedikasikan kepada para fans-nya, saat kita pertama kali membuka album 1+2. Sebuah album reinkarnasi dari kedua album fenomenalnya rumahsakit dan Nol Derajat, serta menambah 4 materi lagu terbaru. Serasa masuk ke mesin waktu saat “Hilang” dibawakan pada track pertama, dan langsung membayangkan berjaya Poster Cafe pada masanya. “Bernyanyi Menunggu” juga cocok buat kalian yang menantikan seseorang atau dilanda kemacetan jalanan ibukota.

Photo source by: Google
Review 1-4: Gilar DiAria
Review 5-8: Robby Wahyudi