Category Archives: Articles

wp6dffbee3_05

Beberapa Tips Memilih Alat Musik Untuk Pemula Berkantung Tipis

Mau share tips-tips memilih dan membeli alat musik nih, berhubung banyak dari kita yang bakalan dapet THR dalam waktu dekat ini, dan pasti banyak juga yang mau memakai THR itu untuk beli alat musik atau memulai sebuah band.

Untuk sekarang contoh-contohnya bakal banyak merujuk ke gitar dulu, ya karena gitar adalah instrumen paling populer saja, dibandingkan dengan basoon atau erhu misalnya (bukan berarti gue ngerti juga soal alat-alat itu sih).

1. Kecuali anda adalah tipe orang yang belajar lebih efektif dari pengalaman anda sendiri (termasuk dari mistakes anda sendiri, dengan kata lain dapat melihat hikmah dari salah-salah beli barang dan akhirnya ngga punya uang), saya sarankan agar anda tidak membeli instrumen karena hanya ingin mengikuti idola anda saja. Cobalah satu-satu tiap instrumen yang ada di toko musik, dari jenis yang anda inginkan, dan dengarkan baik-baik apa kata tangan dan telinga anda sendiri sebelum anda membelinya. Apa yang cocok dengan Thurston Moore dan Jack White belum tentu cocok dengan anda dari berbagai macam aspek, lagipula alat-alat itu semua menjadi spesial karena pemainnya, bukan sebaliknya (Dan para pemainnya juga menjadi spesial karena banyak hal, termasuk berlatih musik selama 8 jam sehari sebanyak 7 kali seminggu).

2. Gunakan imajinasi anda ketika anda mulai mencari tahu tentang instrumen-instrumen pendukung, seperti unit efek pedal misalnya. Ketika anda membayangkan sebuah sound, dan akhirnya sudah mengetahui sifat dan bentuk bunyi yang anda cari, maka untuk mencari alat yang dapat merealisasikan imajinasi anda tersebut akan lebih mudah dan jauh lebih rewarding terhadap pembentukan karakter sound anda. Dan anda juga tidak akan bisa salah ketika anda menemukannya lalu akhirnya membelinya, dibandingkan dengan membeli sebuah alat hanya karena alat itu ada pada pedalboardnya Kevin Shields misalnya.

3. Percaya pada feeling dan pendapat anda sendiri, jangan terlalu terpaku oleh review dan harga mahal. Unit efek reverb seharga 5 juta rupiah bisa saja menghasilkan suara yang proper, tapi suara yang proper belum tentu berarti “suara” anda.

4. Beli dulu versi murahnya, karena anda akan lebih mempunyai kebebasan berekspresi ketika bermain dengan instrumen-instrumen murah (Ya kecuali anda berkantung super tebal pasti anda akan santai-santai saja untuk membanting-banting gitar anda). Bayangkan saja misalnya anda sedang dikejar waktu, dan anda harus menyetir mobil seharga 5 milyar rupiah untuk sampai ke tujuan, pasti anda akan hati-hati sekali dan mengerjakan semuanya berdasarkan textbook (terutama di Jakarta), alhasil rasanya jadi ngga lepas. Lain halnya jika anda mengendarai sebuah kendaraan yang anda anggap murah (dan sudah baret-baret pula), pasti anda akan habis-habisan memainkannya.

5. Banyak-banyaklah mencoba segala macam instrumen, dari mulai erhu sampai bassoon. Instrumen yang anda anggap keren sekarang karena dipakai oleh Victoria Legrand dan Grimes belum tentu terlihat keren sebelumnya. Jadilah orang pertama di Indonesia (setidaknya) yang menjadikan sisir rambut sebuah instrumen yang hip misalnya. Temukan alat-alat unik yang sesuai dengan karakter anda, dan jadikan alat-alat tersebut spesial, setidaknya untuk anda sendiri. Dan kalau mau lebih serius lagi sih, jadikan diri anda sendiri sebagai sumber dari musik anda, apapun instrumennya.

Tips dan masukan-masukan di atas sebenernya kalau dipikir-pikir lagi tadi tidak berlaku kalau gaji bulanan anda sekitar 10 juta rupiah ke atas atau jika anda masih hidup dari trust fund orang tua anda yang nominalnya unlimited. Jika begitu kasusnya, belilah semua alat instrumen yang anda mau dan suka, niscaya meskipun alat-alat itu sekarang tidak digunakan dengan sepatutnya, anda akan sangat bersyukur mempunyainya ketika anda jatuh miskin, dan anda akan benar-benar belajar memainkannya hingga mencapai potensi maksimalnya, sehingga musisi-musisi yang tadinya iri pun akhirnya menjadi gembira kembali.

Review Redaksi Akhir Tahun 2012

Seperti para bankir-bankir dan professional muda lainnya di hari-hari terakhir tahun 2012 ini, kami di deathrockstar juga akan melakukan closing akhir tahun. Surat-surat dari para penggemar dan dinas pajak yang sudah tertutup debu akhirnya kami buka juga, termasuk didalamnya album-album dan EP karya musisi lokal produksi tahun ini yang belum sempat kami review, atau kita review ulang disini.

Tanpa banyak kata-kata lagi, berikut adalah review singkat, padat, dan lugas tentang album mereka yang kami temukan tergeletak di atas meja redaksi:

1. Harlan Boer – Sakit Generik

Jarang sekali ada seorang vokalis lokal dengan suara yang berkarakter. Jarang juga ada sebuah album atau EP yang bisa menggambarkan sebuah harapan dalam keputus-asaan. Ditemani sebuah gitar akustik dan seorang penyanyi perempuan, dan kadang sebuah harmonika, trompet atau biola saja, Harlan Boer berhasil membawa kita kedalam sebuah atmosfir tertentu tanpa banyak usaha. Andai saja dia bisa sedikit lebih jujur lagi dari yang sekarang, terutama pada suaranya yang sudah berkarakter, maka albumnya nanti dipastikan akan bisa menyembuhkan banyak orang.

2. Arc Yellow – Mammals

Menarik sekali memperhatikan suara gitar electrik di album ini, track demi track treatmentnya berbeda dan berhasil membedakan antara satu lagu dengan lainnya. Sedikit keras tapi masih bisa dinikmati oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang menyukai sentuhan feedback dari gitar elektrik. Album ini lumayan tidak membosankan untuk sebuah band berbasis senar dan distorsi, kalau saja instrumen-instrumen lainnya, termasuk vokalnya, bisa sedinamis dan sehidup suara gitarnya, maka album ini bisa menjadi sangat adiktif.

3. Sarasvati – Mirror

Campuran antara timur barat terdapat pada album kedua dari biduan asal Bandung ini. Masih bernuansa mistis, theatrical dan dramatis, yang berbeda di album ini adalah tonality dan keseluruhan warna dari lagu-lagunya yang cenderung lebih cerah atau ringan. Kalau di album sebelumnya mungkin Risa sedang tenggelam sendirian (maksudnya manusia satu-satunya) di alam lain, maka pada album ini dia mulai santai, dan membawa beberapa teman manusianya untuk ikut serta. Dengan kata lain, dia mulai bermain-main dengan bunyi dan aransemen, tanpa terlalu fokus dengan kisah yang sedang diceritakan. Sayangnya diantara bunyi-bunyi itu, pada bagian drum dan bass masih terdengar kasar dan tidak terlalu diperhatikan, tidak menyatu dengan sapuan orkestra sinematik yang mayoritas ada disetiap lagu, sifatnya masih sekedar tempelan saja.

4. Darryl Wezy – Maze of Fears

Dari karakter dan tarikan suaranya Darryl Wezy, mungkin kita bakal keinget sama band-band atau penyanyi khas teenage pop Amerika yang biasanya panjang dibagian vowel. Musiknya sendiri adalah campuran antara musik band berbalut overdrive dan orkestra super minim, yang kemungkinan besar adalah masukan dari Aghi Narottama, sang produser. Beberapa petikan surf gitar dari sang produser menyelamatkan album ini dari kedataran khas band pop ceria nan positif dan berwarna warni. Jika anda suka hal-hal yang sangat manis, seperti piknik di taman atau gula berlumuran kecap, anda mungkin bisa menikmati album ini, sebuah gulali yang diramu dengan sangat benar oleh mereka yang ahli dibidangnya.

5. The Upstairs – Katalika

Ditinggal ketiga personil bukan menjadi hal rumit untuk mereka. Malah semakin merubah tata alur musik The Upstairs yang awalnya terdengar kasar dan monoton menjadi rapi dalam jangka waktu tiga tahun saja dari album “Magnet! Magnet!”. Kaya akan suara synth dan semakin up-beat di beberapa lagu, dilumatkan kedalam riff gitar khas dari Andre Idris. Tentunya Jimi Multhazam selaku penggagas lirik hampir disemua lagunya terdengar lebih variatif merampungkan bait demi bait. Bisa kalian bayangkan beberapa nama zat-zat berbahaya bisa menjadi satu lagu bertajuk “Selamat Datang Di Tubuh Kami” yang tentunya semakin membuat kita berdansa resah.

6. Seringai – Taring (Deluxe Edition)

Sepertinya kinerja selama lima tahun terbayar lunas secara kilat, untuk album Taring (Deluxe Edition) yang habis terjual dalam kurun waktu 2 hari. Dikemas secara eksklusif berupa booklet disertai poster A3, sticker, serta cerpen mengenai serigala menguasai dunia pasca-kiamat oleh Soleh Solihun. Materi album ini terlihat fresh dengan menambahkan instrumen-instrumen blues, serta menyisipkan lagu tentang “Boba Fett” dan juga merekam ulang lagu dari Duo Kribo “Discotheque”. Selebihnya, masih bertemakan kemunduran moral bangsa kita, ditambah “Lagu Lama” berkumandang dari pemerintah dengan segala omong kosongnya.

7. ROXX – Jauh Dari Tuhan

Masih konsisten dengan asupan-asupan dari Anthrax dan Metallica, di album “Jauh Dari Tuhan” ROXX mulai bereksperimen dengan lirik-lirik mengenai perjalanan relijiusnya yang mengingatkan saya kepada Master Of Reality milik Black Sabbath. Bermain full atractive bersama skill-skill muktahirnya, menggilas telinga dengan shred gitar yang memanas, hingga saya menobatkan predikat “Bocah Tua Nakal” kepada kelima senior musik serta menjadi tokoh inpirasional semua pelaku musik rock dan metal, atas buah pemikiran mereka sampai saat ini.

8. Rumahsakit – 1+2

“Dipersembahkan untuk kalian yang tidak membiarkan kita hilang…”, begitulah kutipan pesan dari Rumahsakit yang didedikasikan kepada para fans-nya, saat kita pertama kali membuka album 1+2. Sebuah album reinkarnasi dari kedua album fenomenalnya rumahsakit dan Nol Derajat, serta menambah 4 materi lagu terbaru. Serasa masuk ke mesin waktu saat “Hilang” dibawakan pada track pertama, dan langsung membayangkan berjaya Poster Cafe pada masanya. “Bernyanyi Menunggu” juga cocok buat kalian yang menantikan seseorang atau dilanda kemacetan jalanan ibukota.

Photo source by: Google
Review 1-4: Gilar DiAria
Review 5-8: Robby Wahyudi

The Triangle: The Triangle Album

Ibarat mesin, The Triangle mungkin adalah mesin motor bebek yang terlambat panas. Mengecewakan sih tidak, tapi tiga nomor awal di album ini buat saya adalah sebuah start yang lamban dan berlalu begitu saja tanpa memberi kesan yang mendalam. Untungnya, kondisi tadi menjadi sedikit lebih baik begitu saya mulai menginjak nomor-nomor selanjutnya.

Track “Should I?” adalah salah satunya. Menawarkan baris reffrain yang memuat ratapan minor sang vokalis yang sedang bingung di antara dua pilihan, lagu ini sukses membuat dada saya teriris, lengkap dengan latar belakang suara bising gitar mengawang. Momen terbaik di album ini mungkin ada pada “How Could You’’. Diawali dengan suara Cil sang vokalis yang muram plus atmosfer berkabut yang telah dibangun sejak awal, track nomor delapan ini secara konstan akan mampu membawa anda menuju titik terendah yang bahkan mungkin bisa melambatkan denyut nadi anda. Dan dengan derap snare drum plus seksi tiup yang mempesona, “How Could You” sukses berakhir dengan dramatis nan megah. Jika rasa getir, duka, dan aroma gloomy harus diperingati melalui sebuah ritual upacara yang agung, maka sepertinya “How Could You” adalah lagu yang tepat untuk mengiringinya.

Selanjutnya, “Afternoon Bird” juga menjadi nomor menarik untuk disimak. Dimulai dengan (seperti biasa) part muram di awal, lagu ini mendadak menggelinjang memasuki tengah lagu, dan dengan lenguhan sang vokalis plus seksi tiup yang membahana, wujud lagu ini menjadi tidak sama lagi setelahnya. Ah, andai saja sejak awal sudah sekeren ini, mungkin album ini akan terdengar dua kali lipat lebih menarik.

The Triangle sendiri adalah album perdana dari band bernama serupa, The Triangle. Kental dengan aroma indie-rock plus petikan gitar akustik di sana-sini, band ini diawaki oleh dua gitaris yang sudah terlebih dahulu dikenal lewat band terdahulu mereka, Fikri Hadiansyah (Vincent Vega) plus Riko Prayitno (Mocca, kali ini lebih dominan menggenggam instrumen bass). Bersama dua nama tersebut, band yang berdiri pada 2010 ini seperti tidak membutuhkan waktu lama dan langsung tancap gas menelurkan album perdana. Di luar kedua nama tadi, Cil Satriawan sang vokalis juga mampu membuktikan bahwa keberadaannya bukan sekedar pelengkap. Meski sempat terdengar seperti penyanyi yang tengah kebingungan dan tidak tahu harus bernyanyi seperti apa, setidaknya Cil tetap lumayan di beberapa lagu plus pelafalan bahasa inggris yang begitu empuk di telinga.

Beberapa lagu di The Triangle mungkin akan berlalu begitu saja di telinga anda tanpa meninggalkan kesan yang signifikan. Tapi soal potensi, album ini bisa jadi adalah langkah awal dari sesuatu yang lebih besar di masa depan. Poin plus-nya, album ini hadir dalam kemasan yang sangat menarik. Setidaknya jika anda tidak suka materi lagunya, packaging yang keren telah berhasil membuat album ini tetap layak untuk dibeli, meski di lain sisi, belum tentu akan membuatnya pantas untuk diputar sering-sering.

1336381008_drtf

Starting Over – Dekadensi

Ketika doom, sludge dan stoner metal sedang maraknya di Indonesia, Starting Over band asal kota gudeg ini mengambil jalan lain untuk bereksplorasi bersama aspirasinya dalam bermusik. Dan sempat menoleh kepada nu metal dan deathcore. Namun sajian groove metal yang diasup secara positif semenjak 2008 oleh Bagas (Vokal), Chandra (Bass), Acong (Drum), Kiki (Gitar), Agung (Gitar), dapat membuahkan hasil berupa satu album yang bisa kalian dapatkan secara gratis disini, bertajuk “Dekadensi”.

Di album ini Starting Over mencoba membicarakan kemerosotan moral bangsa Indonesia dari aspek sosial hingga politik, seperti lirik yang mereka curahkan di lagu “Konpirasi Tahta” dan “Orde Hitam”. Tapi dari skala musikalitas, mereka masih perlu referensi tambahan dari band semacam Exhorder dan Pantera, supaya mengemas album selanjutnya tak ragu-ragu atau nanggung seperti shred guitar yang dikumandangkan saat membawakan “Fight For Life”.