Monthly Archive for November, 2007

Smiles Waterfall # 05

December 15, 2007
7:00 pm
7:00 pm

Portasound Entertime pop & OZ FM, Monik House presents

SMILES WATERFALL # 5

15 December 2007
Monik Yard
Jl. Dr.Setiabudhi 56
Bandung
40141

Feat :
Hollywood Nobody
Slow In dance
Abadkatrowave
Sunny Summer day
Sindentosca
Everybody Love Irene (TBC)

Dj : Marine, Appepito, Terorrdoom

Support By :
Monik House , Warehouse Music, OZ FM, Maritime Records, JUNK Magazine, Ripple Magazine, Jeune Magazine, Fabric magz, All Bandung.com, Deathrockstar.info, Celtic Rawpparel etc

WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY : Konser Album Skenario Masa Muda

December 12, 2007
7:00 pm

DUNHILL DIMENSIONS
PRESENT

Konser Album Skenario Masa Muda
WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY

BANDUNG
SABTU, 8 DESEMBER 2007 / JAM 19.30
Auditorium RRI Bandung
Gedung RRI, Jl. Diponegoro 46
Bandung
With special performance by Hollywood Nobody

JAKARTA
SELASA, 11 DESEMBER 2007 / JAM 19.30
Usnar Ismail Hall
Gedung Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (PPHUI)
Jl. H.R. Rasuna Said kav. C-22, Kuningan
Jakarta
With special short film screening “Di Balik Tjahaya Gemerlap” (Dir.: Edwin)
and video projection

GRATIS. TEMPAT TERBATAS. HANYA TERSEDIA 500 UNDANGAN DI JAKARTA & 500 UNDANGAN DI BANDUNG.

Undangan dapat diambil secara cuma-cuma mulai tanggal 1 Desember 2007 di:
BANDUNG : Monik House, Jl. Setiabudi 56, Bandung
JAKARTA : Aksara Kemang, Aksara Plaza Indonesia, Aksara Citos (Cilandak Town Square)- Jakarta

INFORMASI :
BANDUNG : (022) 2032740 atau (022) 2038668
JAKARTA : (021) 7199288
www.soundshineevent.com

WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY : Konser Album Skenario Masa Muda

December 8, 2007
7:00 pm

DUNHILL DIMENSIONS
PRESENT

Konser Album Skenario Masa Muda
WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY

BANDUNG
SABTU, 8 DESEMBER 2007 / JAM 19.30
Auditorium RRI Bandung
Gedung RRI, Jl. Diponegoro 46
Bandung
With special performance by Hollywood Nobody

JAKARTA
SELASA, 11 DESEMBER 2007 / JAM 19.30
Usnar Ismail Hall
Gedung Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (PPHUI)
Jl. H.R. Rasuna Said kav. C-22, Kuningan
Jakarta
With special short film screening “Di Balik Tjahaya Gemerlap” (Dir.: Edwin)
and video projection

GRATIS. TEMPAT TERBATAS. HANYA TERSEDIA 500 UNDANGAN DI JAKARTA & 500 UNDANGAN DI BANDUNG.

Undangan dapat diambil secara cuma-cuma mulai tanggal 1 Desember 2007 di:
BANDUNG : Monik House, Jl. Setiabudi 56, Bandung
JAKARTA : Aksara Kemang, Aksara Plaza Indonesia, Aksara Citos (Cilandak Town Square)- Jakarta

INFORMASI :
BANDUNG : (022) 2032740 atau (022) 2038668
JAKARTA : (021) 7199288
www.soundshineevent.com

R.I.P. Kevin Dubrow of Quiet Riot

kevindubrow Vokalis band glam rock Quiet Riot, Kevin Dubrow meninggal pada hari minggu kemarin pada usia 52 tahun di kediamannya yang terletak di Las Vegas, untuk sementara penyebab kematiaannya belum diumumkan, menunggu hasil otopsi.

Quiet Riot adalah salah satu band yang mendukung scene glam-metal pada era 80-an. terkenal karena cover version lagu “cum on feel the noize” dari Slade.

Dubrow dipecat dari Quiet Riot pada tur mereka ditahun 1987, dan sejak saat itu Quiet Riot walaupun konsisten merilis album dan melakukan tur, kepopuleran mereka terus menurun.

Pada 2004 Dubrow merilis album “In For the Kill”

Space in the headline - ZATPP

kover_zatpp240 Zeke and the Popo
Space in the headline
blackmorse records
7.9

Ada puluhan juta orang diseluruh dunia yang mendengarkan The Beatles, dan beberapa juta dari jumlah tersebut juga mendengarkan Radiohead. Dan ratusan ribu dari jumlah itu juga membuat sebuah band. Jika dipersempit lagi menjadi band yang juga memiliki referensi lain diluar dua nama besar itu, maka akan tinggal beberapa ribu band yang merilis album. Salah satu dari band itu adalah Zeke and the Popo (ZATPP)

yup ZATPP, yang telah merilis sebuah album berjudul Space in the headline. Sebuah album yang dengan cara mudah dideskripsikan sebagai eksperimentasi dalam mencampur adukan The Beatles dengan Radiohead diaransemen dengan potongan-potongan melodi yang terinspirasi dari musisi-musisi rock lainnya dan noise-noise experimental sambil menonton film noir hitam putih. dimana paduan-paduan tersebut menghasilkan variasi sound yang menerawang, drowning dan melayang sekaligus.

well tidak semudah itu menjelaskan album ini. Dengan variasi melodi dan bagian-bagian lagu yang masing-masing memliki daya tarik kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dimana kadang mereka terasa seperti band-band avantgarde yang sedang mabuk, kadang terasa seperti anak kecil penggemar radiohead, kadang juga terdengar seperti musisi rock yang dewasa dan dibeberapa bagian menjadi sebuah musik latar film. dan saya pun tidak akan berusaha menjelaskan hal tersebut lebih jauh lagi untuk menjaga kemisteriusan album ini.

Rilisan ini menjadi lebih berkarakter dan ‘jadi’ dibandingkan rilisan e.p. mereka sebelumnya saya rasa selain secara aransemen telah terolah selama beberapa tahun, kualitas rekaman, mixing dan mastering yang jauh lebih berkualitas. Di sektor vokal pun ada sedikit perbaikan dalam pengolahannya. Mungkin karena latihan dan telah ditemukannya teknik merekam vokal yang baik. Walaupun hasil vokalnya tetap bukan sebuah rekomendasi.

www.myspace.com/zatpp

 
icon for podpress  ZATPP - History of frequency: Play Now | Play in Popup | Download (633)

interview Nico Vega

Nico Vega
The sounds of passion of three people that make a soulful and yet powerful songs always attract my ears. And so do the Nico Vega. A trio that gain publicity for their nice and catchy tunes and wonderful live shows. here is a brief interview with Nico Vega

how is Nico Vega now?
We get better every day and the more time we spend together the closer we seem to get. We’re in the studio right now working on what we believe is an important album. It’s exciting as hell and we can’t wait for it to be heard.

some people said that Aja is an edgy modern living Janis Joplin, what is your own opinion?
When you hear a white female sing with that kind of power it’s an obvious connection to make. You can also draw comparisons to early Tina Turner in terms of attitude and energy. However, no one in this band has ever tried to be anything or anyone they’re not. When you see us perform, you’ll hopefully focus on what’s happening and stop drawing comparisons to anyone else.

any plan about this Janis Joplin’s thing?
Aja will continue to do the Aja thing

some people keep comparing Nico Vega to YYYs, what is your own opinion about this?
We love the YYY’s. But I do think it’s funny that people make this comparison. Both bands are trios and are fronted by bold, aggressive female singers. You realize how important the visual component is in the way people draw these comparisons. If there were only women in the band, you’d be comparing us to the Bangles or something.

what is your opinion about the free music sharing on the Internet?
It’s a harsh reality for artists and for the record industry. But this is America, an overwhelmingly consumer oriented culture… there are just so many damn things we want to buy. People generally aren’t going to pay as much for something they can get for free.

what is your most precious bought records this year?
Loving the new Radiohead… by the way, paid $10.00 for it.

your future plan for Nico Vega as your way of living?
To spread the Nico Vega lifestyle across the world.

please share some tips for a new band that try to step their first step in the music scene?
Pigheaded persistence!

last word?
If it doesn’t make you happy, don’t do it.

A brief introduction (taken from www.myspace.com/nicovega)
For us Nico Vega is a way of life. We are 3 people who play music together. We write as a band and help each other develop our ideas. The root of the music is the relationship between us. Nico Vega is about collaboration. We are a family and we honor each other by listening and allowing each other to grow. We push each other to be better and to carry each other when we feel weak.

Nico Vega represents a modern day saint. A warrior that has led us to a more fulfilling, lighter way of being. She represents people and unity. She fights for all of us and teaches us to fight for each other. She is an idea that has evolved into a message and she fuels us in our bellies. She is the person we are all capable of being, but she holds the bar high above our head so that we must reach to be better human beings. We all have honesty inside of us, we all know how to love, we are all made of the same flesh, and we are all stuck here together. Nico Vega reminds us that we can learn to fuse these ideas together and grow more solid as a unit of man. Alone we are lost, we fail, we grieve, we search, we struggle, we feel small. Together we are solid, found, loved, and powerful. We are our own greatest natural resource. Our ego falls away when we listen to each other. It is when we stop believing that we can learn from one another that we stop learning altogether. Only then are we alone. We are no different from each other; the same flesh, the same pain, the same love, the same heart. Our greatness is no threat. The more beautiful we are individually, the more powerful we are together. It is our Ego that betrays and lies and tells us that we are threatened when we are not.

You are a part of our family and we will always make music to communicate our love and gratitude for you. If you come to our show, throw your hands up so we can feel you… you will feel us.

 
icon for podpress  Nico Vega - Wooden Doll: Play Now | Play in Popup | Download (719)

Levi’s Luncurkan Koleksi Fall/Winter 2007

Red Tab 2 Untuk para penggemar Levi’s, mereka baru saja meluncurkan koleksi barunya. berikut ini adalah siaran pers dari Levi’s dalam mempromosikan produk barunya ini

Siaran Pers
Levi’s Luncurkan Koleksi Fall/Winter 2007

Bandung, 3 November 2007 – Levi’s kembali meluncurkan produk terbarunya dalam rangkaian koleksi Levi’s Red Tab Fall/Winter 2007, dalam sebuah Levi’s Party, di Bandung, pada tanggal 3 November 2007. Pada kesempatan ini, Levi’s meluncurkan Levi’s Red Tab Fall/Winter 2007 collection, yang akan menampilkan lima tren global yaitu New Wave Modernism, Contemporary Artist, Purification Nature, Modern Workwear, dan Maritime Mode.

Ms. Eden Bunag Country Manager Levi Strauss Indonesia, menjelaskan, “Fashion sudah bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup tetapi sekarang ini, fashion sudah menjadi cara bagi setiap orang untuk mengekspresikan diri. Sebagai pionir jeans, Levi’s mengerti akan kebutuhan tesebut, yang diterjemahkan oleh Levi’s dalam koleksi Fall/Winter 2007 dalam lima tren global yang menampilkan nuansa perpaduan gaya fashion jalanan (street wear) dan high end, nuansa sejarah kelautan, gaya pakaian kerja harian dan petani, sampai tema kelestarian dan kemurnian alam.”

Selain koleksi atasan yang mengekspresikan kelima tema global tren, koleksi bawahan Levi’s Red Tab Fall/Winter 2007, masih mengandalkan sentuhan Dark and Clean, dimana warna – warna lebih gelap seperti hitam, abu – abu dan biru tua, dengan sedikit karakter yang agak kotor dan kusut (crumple) masih digemari. Potongan Skinny & Slim Straight, Carrot, dan juga New Height (khususnya bagi kaum wanita), juga memeriahkan koleksi Levi’s Red Tab Fall/Winter 2007.

Bagi kaum pria metropolis, potongan skinny, yang mengecil dari atas sampai dengan bagian bawah merupakan tren yang sedang digandrungi. Begitu juga dengan potongan Carrot, yang merupakan kombinasi dari potongan loose yang ekstrim dengan versi tapered (mengecil di bagian bawah). Sementara bagi kaum wanita, potongan pinggang yang biasanya cenderung low waist, sekarang sudah mulai mengarah ke potongan pinggang yang lebih tinggi.

Sekilas tentang Levi’s® Brand
Diciptakan tahun 1873 oleh Levi Strauss, Levi’s® Jeans merupakan jeans yang otentik dan orisinil. Levi’s® Brand menawarkan rangkaian koleksi terbanyak di pasaran dan adalah produk yang paling sering diimitasi dalam sejarah industri aparel. Levi’s® Jeans telah mencuri perhatian, imajinasi, dan loyalitas dari berbagai generasi dari 110 negara bahkan lebih. Hingga kini, Levi’s® Brand terus berinovasi setelah melewati lebih dari 150 tahun inovasi jeanswear.

Rising Nation

rising_nation
Rising Nation is totally nobody.

Awalnya, ini cuma ide saya (Eko - vokal/gitar) yang pengen ngelakuin sesuatu yang bisa dikenang semasa kuliah. Akhirnya saya ngelakuin dua hal: ikutan proyek zine dan main musik. Saya ketemu teman sekampus yang senang old school rock, Mika (gitar), lalu kita berdua
memutuskan untuk membentuk band. Band ini baru lengkap di awal 2007, setelah Cupez (bass) dan Hani (drum) bergabung. Keempat personel Rising Nation rata-rata udah ngeband dari SMP,
tapi cuma meng-cover lagu-lagu band lain. Hani malah sempat jadi ketua choir mahasiswa. Dari awal Rising Nation telah sepakat untuk menciptakan lagu sendiri. Lalu di akhir Oktober 07
jadilah demo tiga lagu yang juga kita kirim ke DRS. Karena dana yang terbatas semua lagu di dalam demo tsb direkam di PC saya dengan tools, pengetahuan dan keterampilan recording yang seadanya. Biasanya yang namanya band kan ikutan gigs di mana-mana dulu baru bikin demo, kalo kita kebalik, demo dulu baru nyari kesempatan tampil di berbagai gigs. Ada dua hal yang
bikin kita ngelakuin ini: pertama karena di Malang kebanyakan adalah acara-acara musik bersifat parade dimana yang mo manggung harus bayar. Mending kalo panitianya bikin publikasi yang OK so walopun kita bayar ada yang nonton, kalo gak? Kedua, Rising Nation tumbuh di luar komunitas musik manapun di Malang. Kita belum punya nama besar, kenalan, atau apapun yang bisa
bikin kita diajak manggung kalo sebuah komunitas ngadain acara. Karena ini juga kita ngerasa kalo memiliki manager dan membuka jaringan adalah sebuah kebutuhan mendesak (fyi, sampai sekarang Rising Nation blom punya manager).

Nama Rising Nation muncul karena semua personilnya nggak mau sekedar jadi konsumen dunia pendidikan (baca: mahasiswa yang cuma bisa kuliah) dan jadi fans musik pasif. Kita pengen jadi produktif dengan nge-band dan punya karya sendiri. Tapi karena kita cuma bisa main musik rock dan saya juga gak jago bikin lirik puitis nan romantis, Rising Nation malah jadi band rock berlirik ancur. Lirik-lirik Rising Nation isinya cuma kotoran kepala saya yang banyak ngelamunin hal-hal aneh kaya adek saya yang 8 jam sehari ada di depan TV. Banyak temen yang bilang kalo Rising Nation nggak mainstream. Apa sih mainstream? Tapi karena banyak juga orang yang bilang kalo musik mainstream Indonesia sekarang isinya cuma membodohi orang, gapapa deh, jadi Rising Nation berarti juga bahwa kita gak ikutan ngebodohin masyarakat sebangsa dan senegara,
tapi sebaliknya.

Oiya, kita cuma bisa main musik rock karena saya penggemar berat Freak Kitchen dan belakangan dengerin Yeah Yeah Yeahs, Mika terinspirasi betul sama Blind Guardian, Cupez di jaman mudanya senang sama Helloween, trus ada Hani yang senang Incubus dan RHCP. Influence kita memang standar banget dibanding teman-teman di band-band lainnya, dan pas pertama kali kita ngedengerin albumnya Battles yang “Mirrored”, anak-anak pada menganga semua:)

Rencana Rising Nation dalam waktu dekat adalah memperbanyak pengalaman panggung dan mulai membangun fanbase. Itu baru rencana jangka pendeknya. Goal utamanya -untuk saat ini-, adalah tampil di hadapan crowd besar yang menikmati musik Rising Nation, karena sangat menyenangkan bila menyaksikan crowd yang menyuguhkan moshpit untuk penampilan sebuah band. Langkah untuk mencapainya termasuk mencari label yang mau ngasi kebebasan berkarya seluas-luasnya untuk ngebantu Rising Nation dalam urusan produksi, lalu mendistribusi karya kita seluas mungkin.

www.myspace.com/therisingnations

 
icon for podpress  Rising Nation - Cuaca: Play Now | Play in Popup | Download (76)

à courts d’écran #9 @Festival Film Pendek Konfiden 2007

November 20, 2007
3:00 pm

à courts d’écran #9 @Festival Film Pendek Konfiden 2007
Selasa, 20 November 2007
pk 15.30 - 17.00
Kineforum, Studio 1 TIM 21

festivalfilmpendek.konfiden.or.id/

Terbuka untuk Umum - GRATIS

Pada bulan November ini, à courts d’écran bekerjasama dengan Festival Film Pendek Konfiden 2007, menampilkan empat film pendek Prancis koleksi Lazzenec. Keempat film pendek ini merupakan film pendek Prancis pilihan yang menjadi nominator maupun pemenang festival film pendek di Eropa.

Ce Qui Me Meut

Cédric Klapsich/1998/19’16”

Sebuah mockumentary tentang sejarah penemuan-penemuan sinema. Dirangkai dengan sangat menarik, mengaburkan batas fiksi dengan nyata.

Pacotille

Eric Jameux/2003/11’23”

Thierry hendak rujuk kembali dengan Karine. Dia menghadiahkan kalung dengan rangkaian Kata puitis didalamnya, dan dari situlah permasalahan muncul.

La Fourmi

Anthony Souter/1999/08’34”

Suatu saat, ketika segala sesuatunya menjadi sangat teratur dan kaku.

HLA Identique

Thomas Briat/1998/31’00”

Kejadian paralel pada satu malam yang panjang. Pertemuan-pertemuan yang membawa prasangka serta cinta.

à courts d’écran, adalah sebuah program yang memfasilitasi pembuat film Perancis serta Indonesia melalui pemutaran film serta diskusi untuk menciptakan ruang apresiasi bagi pembuat film dan publik. CCF Jakarta membuka ruang bagi pembuat film muda Indonesia untuk terlibat dalam program ini. Pembuat film muda Indonesia dapat mengirimkan karya mereka ke CCF Jakarta yang kemudian akan melalui proses kurasi untuk ditampilkan dalam satu program pemutaran.

à courts d’écran

CCF / Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta

Jl. Salemba Raya no. 25 Jakarta Pusat 10440

Tel. (021) 390 77 16 - 390 85 85

Fax (021) 390 85 86

acourtsdecran@ccfjakarta.or.id

www.ccfjakarta.or.id

Brandalisme - The Brandals

kovers_theBrandals_brandalisme
The Brandals
Brandalisme
Aksara Records (2007)
6.9

Sebuah band rock yang tetap menyuarakan suara kaum urban, dengan segala kehidupan nya yang keras dan bercampur asap knalpot jalanan. Suara orang-orang kelelahan dalam menghadapi kerasanya hukum rimba perkotaan dimana yang kaya selalu menang sementara yang miskin masih saja berkutat dalam kebingungan mencari sesuap nasi hari ini.

Mendengarkan album rock (yang seharusnya) enerjik ini menipiskan batas antara pendewasaan, monotonitas, kebosanan dan kelelahan. Mereka menjadi seperti rocker-rocker kelelahan yang tertekan pekerjaan sehari-hari dan dikejar waktu jadwal rekaman sementara deadline kerjaan sampingan sudah memanggil.

Namun begitu dengan sisa-sisa energi yang terkuras itu, mereka tetap berusaha menghibur kita dengan anthem seperti ‘100% kontrol’ dan ‘Brokenheart Blues’ yang ringan dan mudah dicerna, dengan lirik-lirik penghiburan supaya tidak menunda-nunda dan patah hati.Lagu-lagu lainnya terus berusaha memberikan energi rock n roll kasar dengan sedikit sentuhan rockabilly dan usaha keagresifan punkrock.

Akhir kata, album ini untuk kaum urban yang kelelahan menghadapi kerasnya kehidupan ditengah himpitan bau keringat bis kota dan debu jalanan. Saya berharap energi mereka yang seperti akan habis itu segera kembali penuh jika menghibur kita lagi di panggung