Monthly Archive for January, 2005

The S.I.G.I.T - Self Titled EP

Self Titled EP
The S.I.G.I.T
2.5

Jadi kita sampai disini, abis dimana sebuah masa mencapai puncaknya untuk kemudian mengakui bahwa peng-eksposan dirinya yang berlebihan tidak berbeda jauh dengan pemerkosaan plagiat pada sesuatu yang pada mulanya masih mempunyai nilai yang histories dan berarti bagi dunia persenian yang sungguh membutuhkannya ini.

Kita membicarakan garage rock. Dan kematiannya. Dan fakta menyedihkan bahwa garage rock mempunyai dua pilar bertolak belakang dengan makna yang sungguh berbeda. Di satu pihak, seperti punk sekolah lama, garage rock menunjukan pada semua remaja bahwa hey, semua orang bisa memainkan musik asal memiliki gairah yang tepat. Pada sisi lain, garage memudahkan trend hoppers untuk mencontek dan merusaknya. Sedikit riff blues kasar disini, sedikit yeah disana, pattern rusuh-tertata, jaket denim body-fit?Lou Reed hanya dapat menunduk terharu.

The S.I.G.I.T hanyalah satu dari berpuluh-puluh band yang muncul jauh setelah trend garage mulai mendapat massa. Dan mengapa mereka lebih dikenal dibanding berjuta-juta cloning lainnya adalah pembenaran dari kata ?nasib?. ?Soul sister?, ?Did I ask yer opinion??, dan ?Clove Doper? memang adalah kick ass rock?n?roll yang simple, kasar, straight to the point, dan?memang bukan begitu kah seharusnya? Well?no. Bagaimana dengan soul? Bagaimana dengan sejarahnya? Bagaimana dengan fakta bahwa ini riff yang sudah diulang berkali-kali oleh Chuck Berry? The S.I.G.I.T mungkin mengincar emosi the Stooges, tapi dengan tingkat emosi seperti ini, mereka hanya mencapai level JET (and that is NOT good).

Selanjutnya, ?Damned Women? dan ?Come take it? tidak akan terdengar begitu buruk, jika saja the S.I.G.I.T mau melunagkan sedikit waktu untuk menulis lirik yang terdiri dari lebih 1 kalimat dengan hiasan kata ?o-rait!? Dan ?yeh!? yang diulang-ulang? Bagimana dengan social consciousness? Helo Black Flag? Helo Minor Threat?

Jika anda memiliki waktu dan keinginna untuk mengetahui keadaan musik garage tanah air, belilah album the Brandals saja, mungkin tidak mencapai tingkat the Dolls, tapi setidaknya Jauuuuh lebih baik daripada garasi yang satu ini.

Robert Marcus, January 2005

Whatever You Say - Speaker 1st

Whatever You Say
Speaker 1st

Sony Music Indonesia
2.4

I. Bahwa cepat atau lambat, bahwa para konglomerat musik akan mulai mencium bau-bau bangkai trend ketinggalan jaman, adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Dan seperti kejeniusan Sony music dalam mengkontrak band ?hip metal? Saint Loco, mereka telah menarik band ?garage rock? Speaker First, yang tentunya sangat ?saat ini? dengan jaket kulit hasil keringat papa mama, rambut berantakan hasil tataan 3 jam, dan riff blues se-klise riff setiap adegan di strip club pada film-film macho murahan tahun 80-an.

Tentu saja, kelompok ini tidak dapat disalahkan dengan menerima kontrak dari sebuah label besar yang dapat memenuhi semua impian rock?n?roll anda. Wanita! Alkohol! Kover majalah! Gosip! Har wax satu ton! Terkenal di kampus! Dan semuanya oke oke saja sebenarnya.

If only they had the songs.

II. Satu hal yang dilupakan oleh Speaker first selain dandanan rock?n?roll sempurna, dan kover album yang tampak dibuat seorang yang baru membeli program Photoshop 5.0 di Glodok adalah LAGU.
Dari ?Try me? yang mencampurkan ?Black Dog? milik Zepellin dengan Boomerang, ?Tak apa (Yang kau pinta)? yang terdengar seperti Kaka Slank yang audisi untuk the Hives, sampai pemerkosaan Bar-blues yang disempurnakan Jonh Lee Hooker di ?Midnight Blues?, Speaker First tidak dapat memutuskan band garage modern mana yang ingin mereka contek. Hasilnya adalah anak-anak yang tidak pernah peduli dengan akar-akar musik tersebut, seperti anak-anak kecil yang mengira musik garage dimulai dan berhenti dengan the Strokes.

Tentu saja semua ini dapat ditampik dengan sempurna. ?Oh dari dulu kita sudah mendengarkan musik ini, dari koleksi vynil bokap nyokap?. Yeah sure, dan saya suka main ayunan dengan Woodie Guthrie.

III. Play some more Incubus guys.
Yang membuat semua ini menyedihkan adalah; Speaker First dapat saja berhasil jika saja mereka memiliki kemampuan lebih baik untuk memilih influence, me-representasikan diri mereka, dan menulis lagu. Disinilah band garage lain seperti the Brandals menang. Mereka mungkin baru ?lahir? pada saat garage rock hidup kembali awal 2001 kemarin. Tapi setidaknya, kita dapat mengatakan ?Hey, ini kayak lagunya Chuck Berry!?. Bandingkan semua ini dengan lagu Speaker First seperti ?I hate this blue?, ?Common Male?, ?Black Coffee?, dan judul ter?indah? dan ?emo? di album ini ?Friendship eversince?; semua yang terdengar seperti lagu-lagu Guns?n?Roses di ?Use your illusions?; White Boy Melayu Blues. Blues scale. Harmonica. ?Yeah? 4 atau 5 kali di setiap lagu. Vokal ?british?. Rambut acak. Sempurna! Garage rock!

IV. Epilogue
Seburuk-buruknya trend garage yang mulai menjamur sekarang, setidaknya ini banyak menginformasikan anak muda pada band-band tahun 60, 70, dan 80-an yang berhasil karena mereka selalu melihat dan menghargai musik sebelum mereka, dan meracik influence tersebut tanpa terdengar seperti sebuah pencabulan retro maling kundang. Speaker First memulai karir mereka dengan merilis album yang se-asli sendok kopi di McDonalds. Sebuah album yang menghasilkan aliran baru ?Melayu rock?n?roll?. Jika mereka belum di-drop, mungkin mereka akan mendengarkan album-album yang benar sebelum album kedua mereka. Atau setidaknya sang vokalis mempunyai waktu untuk les dialek Inggirs di LIA.

Robert Marcus, January 2005